BPS Catat Kalteng Alami Deflasi pada Juni 2024

Kepala BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti saat hadir melalui zoom meeting

, PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik () Provinsi Kalimantan Tengah () mencatat bahwa, Kalteng mengalami deflasi sebesar 0,28 persen pada Juni 2024.

Hal ini berdasarkan hasil pemantauan BPS di empat kabupaten/kota, yaitu Sampit, Palangka Raya, , dan Kapuas.

“Kalimantan Tengah mengalami deflasi pada Juni 2024 sebesar 0,28 persen dibandingkan dengan Mei 2024,” kata Kepala BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti, dalam konferensi melalui zoom meeting, Senin (1/7/2024).

Ia menyebutkan, bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau memiliki andil terbesar terhadap deflasi bulanan di Kalimantan Tengah, yaitu sebesar 0,26 persen.

“Penurunan harga sejumlah komoditas pokok menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya deflasi secara month to month (bulan ke bulan),” katanya.

ras menyumbang deflasi sebesar 0,14 persen, tomat sebesar 0,08 persen, beras sebesar 0,07 persen, bawang merah sebesar 0,05 persen, dan angkutan udara sebesar 0,05 persen.

Di sisi lain, beberapa komoditas mencatatkan kenaikan harga dan memberikan andil terhadap di Kalteng pada Juni 2024.

Ikan gabus menyumbang inflasi sebesar 0,05 persen, sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 0,03 persen, ikan peda sebesar 0,02 persen, emas perhiasan sebesar 0,02 persen, dan tarif rumah sakit sebesar 0,02 persen.

Agnes Widiastuti juga menyebutkan bahwa terjadi inflasi tahun ke tahun (year-on-year) pada Juni 2024 sebesar 2,22 persen dibandingkan dengan Juni 2023.

Meskipun demikian, deflasi pada bulan Juni menunjukkan adanya penurunan harga secara umum, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi daya beli masyarakat.

Penurunan harga daging ayam ras menjadi faktor utama yang berkontribusi pada deflasi ini. Pasokan yang melimpah dan permintaan yang relatif stabil membuat harga daging ayam turun signifikan.

Selain itu, harga tomat dan beras yang menurun juga memberikan dampak positif terhadap penurunan indeks harga konsumen (IHK) di Kalimantan Tengah.

Deflasi ini menjadi tanda bahwa upaya stabilisasi harga dan ketersediaan yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait berjalan efektif.

“Namun, pemerintah tetap perlu waspada terhadap potensi kenaikan harga komoditas lain yang dapat memicu inflasi di bulan-bulan mendatang,” pungkasnya. (asp)