Melawan stigma
Lahir pada 21 Maret 1995 di sebuah desa di Grobogan, Jawa Tengah, Aries mengaku sudah memiliki kebiasaan berbeda dibandingkan teman-temannya. Di saat rekan sebayanya bermain dengan sesama perempuan, ia justru menghabiskan masa kecilnya dengan bergaul bersama bocah laki-laki.
“Aries dari kecil udah tomboi jadi teman-teman Aries kebanyakan cowok,” ucapnya kepada ANTARA ketika dihubungi dari Jakarta, Rabu (6/11).
Walau begitu, Aries bangga bisa menjadi diri sendiri meski kerap dianggap apa yang dilakukannya terlalu “laki” untuk dia yang perempuan. Bahkan, dalam kesempatan yang sama, ia juga berkomentar soal keinginan orang tuanya memiliki seorang anak laki-laki.
“Ayah dan ibu emang pengin anak cowok tapi dikasih anak cewek, tapi kelakuannya kayak anak cowok. Jadi ya gitu deh,” tuturnya.
Bagaimanapun, perempuan berusia 24 tahun itu tetap berbangga dan tak peduli dengan perkataan orang lain selama “Apa yang menurut Aries baik, ya dilakuin aja,” tuturnya. Beruntung pula, orangtua Aries sangat mendukung pilihannya untuk menjadi seorang atlet panjat tebing.
Apa yang diraih Aries Susanti setidaknya bisa mengingatkan kembali bahwa jika perempuan diberi kesempatan yang sama di berbagai bidang, tentu mereka bisa lebih banyak mencetak prestasi untuk Indonesia.
Tentu Aries bukan perempuan satu-satunya yang mampu mendobrak stereotipe gender di dunia olahraga. Ia juga bukan orang pertama yang mencatatkan namanya di level dunia.
Jauh sebelum Aries, sudah ada tiga srikandi yang berhasil mencatatkan namanya sebagai salah satu peraih medali pertama bagi Indonesia yang diperoleh di cabang panahan pada Olimpiade Seoul 1988.




