Waspada El Nino, Pemprov Kalteng Perkuat Sinergi Hadapi Puncak Kemarau

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng, Agustan Saining

BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) mulai memperketat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Langkah ini diambil menyusul adanya proyeksi dari berbagai instansi terkait mengenai puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga September mendatang.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalteng, Agustan Saining, mengungkapkan bahwa peringatan dini telah diterima melalui koordinasi lintas sektoral.

Ia menjelaskan, kondisi cuaca tahun ini diprediksi akan dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang dapat memicu kekeringan ekstrem di wilayah Bumi Tambun Bungai.

“Informasi dari berbagai instansi, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup, BMKG, serta BNPB, menunjukkan bahwa periode tersebut berpotensi menjadi puncak musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino di wilayah Kalimantan Tengah,” ujar Agustan Saining, Selasa (14/4/2026).

Menyikapi hal tersebut, Agustan menegaskan bahwa Pemprov Kalteng mendukung penuh langkah-langkah mitigasi yang melibatkan sinergi antara Polri, TNI, dan seluruh pemangku kepentingan terkait.

Fokus utama saat ini, lanjutnya, adalah memastikan pengawasan di titik-titik rawan serta kesiapan personel di lapangan.

“Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko karhutla. Upaya pencegahan akan terus dimaksimalkan, mulai dari pemantauan wilayah rawan hingga kesiapan personel dan sarana pendukung di lapangan,” tambah Agustan.

Ia menjelaskan, bahwa pola siklus El Nino yang sebelumnya melanda pada tahun 2015, 2019, dan 2023 telah memberikan pelajaran berharga dalam sistem penanganan bencana di daerah.

Meski siklus kemarau ke depan berpotensi berlangsung lebih lama, yakni antara enam hingga delapan bulan, Dishut Kalteng, tegas Agustan, tetap optimis terhadap kesiapan sistem pertahanan yang telah dibangun.

“Memang ada pola siklus, meskipun tidak selalu pasti. Karena itu, kita anggap kondisi saat ini sebagai bagian dari latihan kesiapsiagaan, mengingat potensi ke depan bisa lebih panjang durasinya,” jelasnya.

Menurut Agustan, keberadaan posko siaga dan sistem koordinasi yang telah teruji pada tahun-tahun sebelumnya menjadi modal penting.

Pemprov Kalteng berkomitmen untuk mempertahankan status siaga guna memastikan respons cepat terhadap munculnya titik api (hotspot).

“Belajar dari pengalaman tahun sebelumnya, penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dilakukan melalui kerja sama seluruh stakeholder, dengan status siaga yang berlangsung hampir sepanjang tahun. Selain itu juga kita sudah memiliki posko siaga dan sistem koordinasi yang berjalan. Intinya, bagaimana kita terus siap dan sigap dalam menghadapi potensi karhutla,” pungkas. (asp)