BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) terus memperkuat peran Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) sebagai garda terdepan dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hal tersebut melalui pengembangan bioekonomi hutan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Langkah ini menjadi fokus dalam kegiatan Dialog Kesiapsiagaan KPH Mengantisipasi Kebakaran Hutan melalui Pengembangan Bioekonomi Hutan yang digelar Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalteng, Jumat (22/5/2026).
Kepala Dishut Provinsi Kalteng, Agustan Saining, mengatakan pengelolaan kawasan hutan yang produktif tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi strategi efektif untuk menjaga kawasan hutan dari ancaman kebakaran.
“Pada hari ini kami melaksanakan dialog penguatan KPH, baik dalam rangka pengendalian kebakaran hutan dan lahan maupun penguatan bioekonomi hutan oleh masing-masing KPH,” ujarnya.
Menurut Agustan, sejumlah KPH di Kalimantan Tengah mulai mengembangkan berbagai usaha berbasis kehutanan berkelanjutan.
Salah satunya KPH Kahayan Tengah yang mengintegrasikan sektor kehutanan dengan pertanian, peternakan, dan perikanan melalui konsep agroforestry, silvopastura, dan silvofishery.
“Di sini ada bawang dayak, jagung, madu kelulut, perikanan hingga peternakan. Jadi kehutanan mendukung pertanian dalam arti luas, baik tanaman pangan, peternakan maupun perikanan,” tambahnya.
Ia menjelaskan, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan hutan menjadi faktor penting dalam menekan risiko karhutla.
Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari kawasan yang dikelola, kepedulian terhadap kelestarian hutan juga akan semakin meningkat.
“Kalau masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari kawasan hutan, tentu mereka juga akan ikut menjaga kawasan tersebut dari kebakaran,” katanya.
Selain tanaman pangan, sejumlah kawasan KPH juga mulai mengembangkan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi seperti alpukat yang dinilai memiliki prospek jangka panjang bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.
Saat ini, program bioekonomi hutan telah berjalan di 18 KPH yang tersebar di Kalimantan Tengah dengan tingkat pengelolaan yang beragam.
Beberapa KPH masih mengelola lahan sekitar 10 hektare, sementara KPH Kahayan Tengah telah mengembangkan kawasan produktif lebih dari 200 hektare di sejumlah lokasi.
“Ada di Desa Pilang, Kilometer 38, dan beberapa titik lainnya. Yang paling luas saat ini berada di KPH Gerbang Barito di Kabupaten Barito Selatan,” jelas Agustan.
Di KPH Gerbang Barito, pengembangan bioekonomi hutan dilakukan melalui budidaya tanaman pinang yang telah mencapai sekitar 200 hektare.
Kawasan tersebut juga mengembangkan usaha peternakan sapi sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi masyarakat.
Melalui penguatan KPH dan pengembangan bioekonomi hutan, Pemprov Kalteng berharap upaya pencegahan karhutla tidak hanya mengandalkan pengawasan dan pemadaman.
Tetapi hal itu juga didukung oleh meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian hutan secara berkelanjutan. (asp)





