BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) setempat memperkuat ekosistem usaha melalui pengembangan komoditas buah naga di Desa Misik, Kelurahan Kalampangan.
Langkah strategis ini bertujuan mengintegrasikan sektor hulu hingga hilir guna memperluas akses pembiayaan dan kepastian pasar bagi petani lokal secara berkelanjutan.
Melalui Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) yang digelar pada Jumat (24/4/2026), disepakati bahwa buah naga menjadi fokus utama program PED Kalimantan Tengah tahun 2026.
Inisiatif ini merupakan dukungan terhadap Kampung UMKM Buah Naga yang memiliki potensi lahan hingga 300 hektare dengan melibatkan sekitar 120 petani.
Kepala OJK Provinsi Kalteng, Primandanu Febriyan Aziz, menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada penguatan ekosistem yang terintegrasi.
“Penetapan offtaker atau agregator yang kredibel menjadi langkah awal untuk menjamin kepastian pasar, yang diperkuat melalui perluasan akses business-to-business, serta didukung pembiayaan berkelanjutan dan sinergi lintas sektor agar program PED berjalan optimal, inklusif, dan mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” terang Primandanu.
Sejauh ini, dukungan pembiayaan dari Lembaga Jasa Keuangan (LJK) kepada petani setempat telah mencapai Rp6,6 miliar dan masih berpotensi untuk terus ditingkatkan.
Dari sisi hilir, Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Kalteng serta sektor perhotelan menyatakan kesiapannya untuk menyerap hasil produksi petani lokal.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kalteng, Darliansjah, yang mewakili Pj Sekda, Linae Victoria Aden, menegaskan pentingnya transformasi pertumbuhan ekonomi agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Melalui kolaborasi lintas sektor dan penguatan peran sektor jasa keuangan, kita ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang telah baik dapat ditransformasikan menjadi lebih inklusif, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Darliansjah.
Kepala BGN Regional Kalteng, Elisa Agustino, menambahkan bahwa kebutuhan bahan baku yang besar dalam program pemerintah membuka peluang luas bagi petani untuk menjadi pemasok utama.
“Dengan kebutuhan bahan baku yang besar dan berkelanjutan, program ini membuka peluang luas bagi petani lokal untuk menjadi pemasok utama. BGN siap mendukung dan menyerap hasil panen petani, sehingga diperlukan penguatan koordinasi dan pemanfaatan potensi lokal secara optimal guna memastikan ketersediaan pasokan yang berkelanjutan,” jelas Elisa.
Sinergi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan yang saat ini mencapai 1.000 kg/ha, tetapi juga meningkatkan nilai tambah dan daya saing daerah melalui ekosistem yang lebih mapan. (asp)





