BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) mematangkan persiapan peluncuran program pembiayaan UMKM melalui Rapat Pembahasan Skema (SKIM) Kredit UMKM Haguet Tahun 2026.
Program ini dirancang sebagai instrumen strategis untuk mendorong pelaku usaha mikro dan kecil agar lebih produktif serta memperluas akses permodalan di Bumi Tambun Bungai.
Hal tersebut ditegaskan oleh Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kalteng, Darliansjah, saat memimpin rapat di Kantor Gubernur Kalteng, Senin (20/4/2026).
Darliansjah menyatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan langkah krusial untuk memastikan sinkronisasi dan harmonisasi regulasi sebelum program diimplementasikan.
Dirinya menekankan bahwa selain fokus pada penyaluran, aspek pengamanan aset negara melalui pengelolaan risiko yang ketat menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
“Pelaksanaan program ini harus mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan mitigasi risiko yang baik, sehingga tingkat kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) dapat dijaga di bawah 3 persen,” ujar Darliansjah.
Dalam skema tersebut, Pemprov Kalteng berencana memberikan subsidi bunga sebesar 3 persen.
Sebagai gambaran, jika target sasaran mencapai 3.000 nasabah dengan plafon rata-rata Rp50 juta, maka total penyaluran kredit diproyeksikan menyentuh angka Rp150 miliar dengan kebutuhan subsidi bunga sekitar Rp4,5 miliar per tahun.
“Mekanisme penyaluran subsidi dapat dilakukan di awal maupun secara bertahap melalui perjanjian kerja sama, dengan penyesuaian apabila realisasi tidak mencapai target,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Kalteng, Norhani, memberikan catatan evaluasi terhadap pola penyaluran kredit sebelumnya.
Ia menilai perlunya pergeseran strategi dari pola kelompok ke pola individu guna meminimalisir kendala pengembalian.
“Ke depan, penyaluran kredit lebih tepat diberikan kepada individu dengan sasaran utama usaha mikro dan kecil yang telah berjalan minimal 6 sampai 12 bulan, sehingga memiliki rekam jejak usaha yang jelas,” tutur Norhani.
Pihak Bank Kalteng selaku mitra penyalur menyatakan kesiapannya dalam menyiapkan analisis pembiayaan yang komprehensif.
Perbankan daerah tersebut berkomitmen menyelaraskan ketentuan teknis pemerintah dengan prinsip perbankan yang sehat.
“Bank Kalteng memiliki pengalaman dalam berbagai skema pembiayaan. Namun, kredit mikro memiliki risiko relatif lebih tinggi, sehingga diperlukan mitigasi risiko melalui seleksi debitur yang tepat tanpa memberatkan,” jelas perwakilan Bank Kalteng.
Program Kredit UMKM Haguet ini nantinya akan melalui proses penyaringan ketat oleh Dinas Koperasi dan UMKM serta penilaian kelayakan usaha oleh Bank Kalteng bersama Jamkrida sebagai lembaga penjamin.
Hal tersebut dilakukan guna memastikan dana stimulus tersebut tepat sasaran dan berdampak nyata pada penyerapan tenaga kerja daerah. (asp)





