BALANGANEWS, KUALA KAPUAS – Kegiatan dialog kepemudaan & kebudayaan dan launching BSO FSM GMNI yang digelar di Kabupaten Kapuas pada Rabu, 10 Desember 2025, dengan tema “Peran Pemuda dan Pendidikan dalam Menanggapi Tantangan Era Digital untuk Membangun Daerah Berbasis Kearifan Lokal”. Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Kapuas, Perwakilan dari Polres Kapuas dan sejumlah pejabat dari perangkat daerah, perwakilan organisasi kepemudaan, serta para pelajar dan mahasiswa.
Hadir sebagai narasumber utama, Maulana Uger, S.T., Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) Kalimantan Tengah. Dalam pemaparannya, Maulana menegaskan pentingnya dialog dan pembentukan badan semi-otonom sebagai langkah strategis untuk memperkuat basis kaderisasi di tingkat pelajar. Salah satu agenda yang diperkenalkan adalah pembentukan Badan Semi-Otonom Front Siswa Marhaen (BSO-FSM) di bawah GMNI Kalimantan Tengah
Menurut Maulana, GMNI Cabang Kapuas yang berdiri sejak 2021 masih membutuhkan pendampingan intensif karena jumlah mahasiswa di daerah tersebut relatif sedikit dibanding kabupaten lain. “Pembinaan harus dimulai dari tingkat pelajar agar regenerasi tidak terputus. Kehadiran BSO-FSM menjadi instrumen untuk membina siswa agar siap menjadi kader GMNI di masa depan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan pemuda di era digital, termasuk derasnya arus informasi dari media sosial yang kerap menyebabkan kebingungan dan memicu penyebaran hoaks. Karena itu, GMNI Kalteng mendorong lahirnya pemuda Kapuas yang kritis, mampu bersaing, dan responsif terhadap perubahan zaman.
Di sisi lain, Maulana menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia daerah. Ia menyinggung Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Kalimantan Tengah yang masih berada pada posisi kedua terbawah secara nasional. “Ini alarm yang harus dijawab dengan keseriusan, termasuk oleh organisasi kepemudaan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Maulana juga mengangkat sejumlah isu strategis di Kapuas, antara lain persoalan penataan sampah dan dinamika wacana pemekaran wilayah di kabupaten Kapuas. Menurutnya, GMNI dapat mengambil peran bukan hanya sebagai pengkritik, tetapi sebagai pemberi rekomendasi kebijakan yang konstruktif.
Ia menutup pemaparan dengan pesan tentang “GMNI Naik Kelas” yang dirumuskan melalui tiga fokus: Bina Diri, Bina Ilmu, dan Bina Bangsa. Maulana menegaskan bahwa kader GMNI harus menyelesaikan pendidikan dengan baik sebelum terjun lebih jauh dalam aktivitas organisasi dan pengabdian sosial.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh DPC GMNI Kapuas tersebut mendapat apresiasi dari peserta. Kehadiran unsur pemerintah, perwakilan dinas, dan organisasi kepemudaan menjadi penegasan bahwa pembangunan pemuda merupakan agenda bersama di Kabupaten Kapuas. (ito)
