Salundik Soroti 146 Kasus Karhutla di Palangka Raya, Pencegahan Diminta Diperkuat

Wakil Ketua I Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, Salundik
Wakil Ketua I Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, Salundik

BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya perlu lebih menitikberatkan pada pencegahan, menyusul tingginya jumlah kejadian selama musim kemarau 2026. Hingga 4 Agustus, tercatat 146 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 162,20 hektare.

Wakil Ketua I Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, Salundik, meminta kesiapsiagaan seluruh pihak terus ditingkatkan agar kebakaran tidak semakin meluas. Ia menilai penanganan yang efektif harus didukung pengawasan wilayah rawan, patroli rutin, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Salundik juga menyampaikan apresiasi kepada tim gabungan yang terus melakukan pemadaman di sejumlah lokasi. Menurutnya, petugas menghadapi tantangan di lapangan, mulai dari cuaca panas hingga akses menuju titik kebakaran yang sulit dijangkau.

“Terima kasih dan apresiasi kami sampaikan kepada seluruh tim gabungan yang terus bekerja menangani karhutla. Mereka sudah berjuang melindungi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa upaya penanggulangan tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul. Langkah antisipasi perlu dilakukan lebih awal, terutama pada kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi ketika kondisi lahan mengering.

“Jangan hanya bergerak saat api sudah muncul. Pencegahan harus menjadi langkah utama melalui patroli, pengawasan wilayah rawan, dan edukasi kepada masyarakat,” katanya.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, kejadian tersebut tercatat sejak status siaga darurat karhutla diberlakukan pada 1 Juni hingga 4 Agustus 2026. Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, disusul Sebangau, Pahandut, dan Bukit Batu. Adapun Kecamatan Rakumpit belum mencatat kejadian dalam periode tersebut.

Melihat sebaran kejadian itu, Salundik menilai pemantauan perlu dilakukan secara konsisten dengan memperhatikan kondisi setiap wilayah. Edukasi kepada warga juga harus terus ditingkatkan agar masyarakat memahami risiko pembakaran lahan, khususnya saat cuaca panas dan kering.

Ia mengimbau warga tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan jika menemukan titik api. Informasi yang diterima petugas sejak awal dapat membantu mempercepat penanganan sebelum kebakaran menjalar ke area yang lebih luas.

“Kalau ada kebakaran kecil, segera laporkan. Jangan dibiarkan karena bisa cepat meluas dan sulit dikendalikan,” tegasnya.

Salundik berharap pemerintah daerah, petugas penanggulangan bencana, aparat, relawan, dan masyarakat dapat memperkuat koordinasi selama musim kemarau. Menurutnya, keterlibatan semua pihak menjadi faktor penting untuk menekan kejadian karhutla, mengurangi dampak terhadap lingkungan, serta menjaga agar aktivitas warga tetap berjalan dengan aman.(Asp)