Nenie Adriati Lambung Dorong Deteksi Dini ISPA pada Anak saat Kabut Asap

Wakil Ketua II DPRD Kota Palangka Raya, Nenie Adriati Lambung
Wakil Ketua II DPRD Kota Palangka Raya, Nenie Adriati Lambung

BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Ancaman gangguan kesehatan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian DPRD Kota Palangka Raya. Puskesmas diminta meningkatkan pemantauan kesehatan, terutama terhadap anak-anak sekolah yang lebih rentan mengalami gangguan pernapasan ketika kualitas udara memburuk.

Wakil Ketua II DPRD Kota Palangka Raya, Nenie Adriati Lambung, menilai upaya pencegahan dan deteksi dini perlu dilakukan secara lebih intensif. Menurutnya, pemeriksaan kesehatan tidak seharusnya hanya dilakukan ketika anak mulai mengalami gejala berat.

“Kami mendorong seluruh Puskesmas agar lebih responsif dalam memantau kondisi kesehatan anak-anak sekolah selama terjadi kabut asap. Penanganan kesehatan tidak boleh menunggu hingga kondisi anak sudah parah,” kata Nenie, Senin (10/8/2026).

Ia mendorong Puskesmas menjalin koordinasi dengan sekolah dan Dinas Pendidikan untuk memantau kondisi peserta didik selama kabut asap menyelimuti wilayah Palangka Raya. Pemeriksaan berkala dinilai penting, terutama di kecamatan yang mengalami penurunan kualitas udara.

Menurut Nenie, deteksi dini terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) perlu menjadi perhatian agar keluhan kesehatan pada anak dapat segera ditindaklanjuti. Koordinasi antarpihak juga dibutuhkan untuk memastikan informasi mengenai kondisi kesehatan siswa dapat ditangani dengan cepat.

Selain pemeriksaan medis, langkah pencegahan melalui edukasi juga perlu diperkuat. Anak-anak dan orang tua harus memahami cara mengurangi paparan asap, termasuk menggunakan masker yang sesuai saat berada di luar ruangan, mencukupi kebutuhan air putih, serta membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

“Perlu ada pembiasaan bagi anak untuk selalu memakai masker saat beraktivitas di luar, meningkatkan asupan air putih, dan membatasi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk,” ujarnya.

Nenie berharap seluruh fasilitas pelayanan kesehatan meningkatkan kesiapsiagaan selama kondisi kabut asap, dengan memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan. Ia menilai, perlindungan kesehatan anak perlu dilakukan melalui langkah terpadu antara tenaga kesehatan, pihak sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah.

Dengan pemantauan yang lebih aktif serta penerapan langkah pencegahan, risiko gangguan pernapasan pada anak diharapkan dapat ditekan selama kualitas udara belum kembali membaik.(Asp)