BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Perlindungan kesehatan anak sekolah perlu menjadi perhatian utama di tengah meningkatnya ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya. DPRD meminta pemerintah kota menyiapkan langkah antisipasi, termasuk mempertimbangkan penghentian sementara kegiatan belajar tatap muka apabila kualitas udara membahayakan kesehatan.
Wakil Ketua II Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, Syaufwan Hadi, mengatakan keputusan terkait kegiatan sekolah perlu mempertimbangkan kondisi kualitas udara dan risiko paparan asap terhadap peserta didik. Selain itu, pemerintah melalui Dinas Kesehatan diharapkan menyiapkan dukungan perlindungan bagi masyarakat.
“Kalau kondisi udara sudah tidak sehat, kami berharap sekolah bisa diliburkan untuk sementara. Pemerintah melalui Dinas Kesehatan juga diharapkan dapat menyiapkan pembagian masker gratis kepada masyarakat,” ujar Syaufwan, Rabu (26/8/2026).
Ia menyoroti tingginya kejadian karhutla di Palangka Raya. Hingga 21 Agustus 2026, tercatat sebanyak 306 kejadian dengan luas lahan terdampak mencapai 264,79 hektare. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan penanganan serius karena kebakaran tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Menurut Syaufwan, upaya penanggulangan perlu diimbangi dengan pencegahan yang konsisten. Pemantauan kawasan rawan, terutama lahan gambut dan semak belukar, harus diperkuat agar potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani lebih awal.
“Dengan jumlah kejadian yang sudah mencapai ratusan, tentu ini menjadi perhatian bersama. Pencegahan harus lebih diutamakan karena ketika kebakaran sudah meluas, penanganannya akan jauh lebih sulit,” katanya.
Syaufwan juga mendorong peningkatan koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, aparat terkait, relawan, dan masyarakat. Menurutnya, kecepatan menerima informasi serta merespons kemunculan titik api sangat menentukan keberhasilan upaya mencegah kebakaran meluas.
Di sisi lain, masyarakat diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, terlebih ketika kondisi cuaca relatif kering. Api yang awalnya kecil dapat merambat dan sulit dikendalikan apabila tidak segera ditangani.
“Kesadaran masyarakat sangat penting. Jangan sampai pembakaran kecil kemudian tidak terkendali dan akhirnya menjadi karhutla yang berdampak luas, termasuk terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan, anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih ketika kabut asap terjadi. Karena itu, pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi kepada masyarakat, penyediaan masker, serta pertimbangan penyesuaian kegiatan sekolah perlu dilakukan berdasarkan kondisi di lapangan.
Syaufwan berharap seluruh pihak dapat meningkatkan kewaspadaan dan tidak menunda pelaporan apabila menemukan kebakaran maupun titik api. Dengan respons yang cepat dan koordinasi yang kuat, dampak karhutla terhadap lingkungan, kesehatan, dan aktivitas warga diharapkan dapat ditekan.
“Kita berharap penanganan di lapangan semakin cepat dan sinergi antarinstansi terus diperkuat. Masyarakat juga jangan ragu melaporkan apabila menemukan adanya kebakaran atau titik api,” pungkasnya.(Asp)





