BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) PT Elnusa Petrofin (EPN) terus menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Melalui program UMKM Academy dan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, perusahaan tidak hanya mendorong pertumbuhan usaha kecil, tetapi juga memperkuat ekonomi keluarga, membuka lapangan kerja, hingga mendukung pelestarian budaya lokal.
Salah satu kisah sukses lahir dari Jambi. Thiur Maita Lubis, istri seorang Awak Mobil Tangki (AMT) PT Elnusa Petrofin, berhasil mengembangkan usaha camilan tempoyak.
Tempoyak sendiri merupakan hasil fermentasi daging durian yang matang, yang digunakan untuk camilan atau bumbu pelengkap masakan tradisional khas Jambi.
Thiur mengembangkan usaha camilan tempoyak dengan merek Aksena Snack. Hingga kini telah menembus 12 toko oleh-oleh dan menghasilkan omzet sekitar Rp10 juta per bulan.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari pendampingan yang diberikan Elnusa Petrofin melalui program UMKM Academy.
Program tersebut membekali pelaku usaha dengan pelatihan branding, pengemasan produk, strategi pemasaran, hingga pendampingan dalam pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Melalui proses tersebut, usaha rumahan yang semula dijalankan secara sederhana mampu berkembang menjadi produk bernilai ekonomi yang lebih tinggi dan memiliki daya saing di pasar.
Lebih dari sekadar meningkatkan pendapatan keluarga, usaha yang dijalankan Thiur juga membuka peluang kerja bagi ibu rumah tangga di lingkungan sekitarnya.
Ia turut berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), sehingga manfaat program tidak berhenti pada satu individu, melainkan meluas ke masyarakat sekitar.
Keberhasilan tersebut menjadi gambaran bagaimana program CSR mampu menciptakan efek berganda atau multiplier effect bagi perekonomian lokal.
Selain meningkatkan kesejahteraan keluarga, program ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 1 tentang pengentasan kemiskinan, poin 5 mengenai kesetaraan gender, dan poin 8 terkait pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi.
Komitmen serupa juga terlihat di Provinsi Riau. Sejak 2022, Elnusa Petrofin melalui unit operasi Integrated Terminal (IT) Dumai melakukan pembinaan terhadap kelompok pengrajin tenun tradisional di Pulau Bungkuk, Kota Dumai.
Program tersebut berhasil memberdayakan lima perempuan pengrajin yang sebelumnya hanya menenun untuk kebutuhan pribadi atau dijual secara terbatas. Kini, mereka mampu menghasilkan omzet hingga Rp10 juta per bulan melalui produksi kain tenun khas Dumai yang mulai dikenal lebih luas.
Tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, program ini juga berperan dalam menjaga kelestarian budaya lokal yang mulai terancam akibat minimnya regenerasi pengrajin.
Melalui pendampingan berkelanjutan, tenun tradisional tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat pesisir.
Di sektor kesehatan, Elnusa Petrofin juga menjalankan Program Posyandu Home Care melalui unit operasi Fuel Terminal (FT) Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, sejak 2023.
Program tersebut berfokus pada peningkatan kapasitas kader posyandu di wilayah KM 3 Sungai Gantang yang menjadi salah satu daerah prioritas penanganan stunting di Provinsi Riau.
Melalui program itu, Elnusa Petrofin mengambil peran sebagai mitra strategis dalam mendukung layanan kesehatan berbasis masyarakat.
Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berupa pemberian bantuan, tetapi juga penguatan kapasitas kader agar mampu memberikan layanan yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Menariknya, sebagian besar penerima manfaat langsung dari program-program pemberdayaan Elnusa Petrofin merupakan perempuan, mulai dari istri Awak Mobil Tangki, ibu rumah tangga, hingga anggota PKK.
Hal tersebut menunjukkan komitmen perusahaan Elnusa Petrofin dalam mendorong pemberdayaan perempuan sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi keluarga.
Bagi Elnusa Petrofin, keluarga pekerja merupakan bagian dari ekosistem yang tidak terpisahkan dari operasional perusahaan.
Ketika keluarga memiliki ketahanan ekonomi yang baik, maka kesejahteraan pekerja juga meningkat dan pada akhirnya berdampak positif terhadap produktivitas kerja.
Pendekatan yang dijalankan perusahaan juga menunjukkan bahwa pemberdayaan UMKM tidak cukup hanya melalui bantuan modal.
Elnusa Petrofin membangun ekosistem usaha yang mencakup peningkatan kapasitas, akses pasar, penguatan legalitas usaha, hingga pengembangan keterampilan pemasaran.
Selain itu, perusahaan memprioritaskan masyarakat di wilayah ring satu operasional sebagai penerima manfaat program.
Kebijakan itu menjadi bentuk tanggung jawab sosial yang kontekstual, mengingat masyarakat sekitar merupakan pihak yang paling dekat dan paling merasakan keberadaan aktivitas operasional perusahaan.
Melalui berbagai program tersebut, Elnusa Petrofin menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis dapat berjalan beriringan dengan pembangunan sosial masyarakat.
Tidak hanya menghadirkan energi bagi kehidupan, perusahaan juga berupaya menciptakan peluang, memperkuat ekonomi lokal, serta membangun masa depan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. (asp)





