Karya: Rahmi Nurfitriana
Di sebuah hutan yang penuh rahasia, tinggal dua makhluk dengan karakter beda 180 derajat: seekor Gagak berwarna hitam legam dengan tatapan licik, dan seekor Lebah kecil yang rajin, rendah hati, serta selalu membawa manfaat buat sekitar.
Gagak ini terkenal di hutan karena hobinya bikin onar. Dia suka nyuri buah dari pohon, bukan buat dimakan, tapi sekadar biar monyet yang lagi metik kesel. Kadang dia sengaja ngejatohin ranting gede biar bikin rusa kaget lari tunggang langgang. Bahkan, yang paling parah, dia pernah nyoba ngerusak sarang Lebah, cuma karena “gabut dan pengen liat ribut.”
“Woy lebah cupu! Hidup lo gitu-gitu aja. Kerja, bikin madu, terus balik lagi kerja. Lo nggak bosen?” kata Gagak sambil ketawa sinis di atas dahan.
Lebah yang lagi sibuk hinggap di bunga cuma jawab santai, “Kalau aku kerja, itu buat sesuatu yang bermanfaat. Madu bukan cuma buat aku, tapi juga buat yang lain. Hidupku mungkin keliatan biasa, tapi setidaknya ada gunanya.”
Gagak mendengus. “Pffft, guna? Mana ada yang peduli sama serangga kecil kayak lo.”
Hari-hari berlalu, dan cerita tentang sifat Gagak makin tersebar. Hewan-hewan lain makin males deket-deket. Mereka tau Gagak nggak bisa dipercaya. Sebaliknya, Lebah makin disayang. Bunga-bunga di hutan seneng banget kalau Lebah datang, soalnya mereka bisa mekar lebih indah. Hewan-hewan juga sering dapet madu manis hasil kerja keras Lebah.
Sampai suatu sore, langit berubah gelap. Angin mulai kenceng, petir nyambar tanpa henti. Hujan deras bikin hutan kayak lautan. Semua hewan buru-buru nyari tempat aman. Gagak yang punya sarang di dahan paling tinggi kena getahnya. Petir nyambar pohon tempat dia tinggal, dan sarangnya hancur berantakan. Gagak jatuh terhempas angin, basah kuyup, bingung harus kemana.
“Aduh… tolongin aku!” teriak Gagak. Tapi nggak ada yang mau bantu. Monyet, rusa, bahkan burung-burung lain cuma ngeliatin dari jauh. Mereka inget semua kelakuan jahat Gagak.
Sementara itu, sarang Lebah yang nempel di batang pohon rendah hampir ikut kebawa angin. Tapi lihatlah: rusa, kelinci, dan monyet sama-sama bahu-membahu nutupin sarang itu pake daun besar biar tetap aman. Mereka rela basah kuyup karena tau Lebah sudah banyak memberi manfaat.
Dari kejauhan, Gagak ngeliatin dengan hati campur aduk. Dia gemetar, bukan cuma karena dingin, tapi juga karena sadar betapa sendirian dirinya sekarang. “Kenapa… kenapa mereka nolongin Lebah kecil itu, tapi nggak ada yang peduli sama aku?”
Seekor rusa akhirnya nyeletuk lantang, “Karena dia baik. Orang baik itu selalu ada yang jaga. Sedangkan lo, Gagak, lo jahat sama semua orang, makanya lo harus tanggung sendiri akibatnya.”
Kata-kata itu nusuk banget di hati Gagak. Malam itu, badai terus menggila. Lebah selamat bersama sahabat-sahabatnya, sementara Gagak terpaksa ngungsi sendirian ke lubang gelap penuh lumpur.
Sejak kejadian itu, Gagak sadar: hidup nggak bisa seenaknya. Karma tuh real, bukan sekadar dongeng. Lo nanem jahat, yang balik ke lo juga jahat. Tapi kalau lo nanem kebaikan, semesta sendiri yang bakal jadi bodyguard lo.
Dan di hutan itu, hewan-hewan belajar satu hal penting: sekecil apa pun kebaikan, akan selalu ada pelindungnya.
Pesan dari cerita:
Cerpen ini mengajarkan bahwa kebaikan sekecil apa pun akan selalu menemukan jalannya untuk kembali pada kita, begitu juga dengan kejahatan yang pasti akan berbalik menjadi akibat buruk bagi pelakunya. Jangan pernah meremehkan kebaikan kecil, karena di saat kita butuh, kebaikan itu bisa jadi pelindung yang luar biasa. Sebaliknya, sikap jahat, sombong, dan merugikan orang lain hanya akan membuat kita sendirian dan dijauhi.





