BPS Kalteng Warning Pemda, Inflasi Tahun Kalender Oktober 2026 Lewati Batas Toleransi

Kepala BPS Provinsi Kalteng, Toto Haryanto Silitonga

BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menyampaikan peringatan (warning) kepada pemerintah daerah dan pemangku kebijakan terkait laju inflasi.

Berdasarkan hasil survei yang dirilis, inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) hingga Oktober 2026 telah mencapai 3,91 persen, angka yang berada di atas batas maksimal sasaran inflasi yang ditoleransi.

Kepala BPS Provinsi Kalteng, Toto Haryanto Silitonga, menyampaikan bahwa secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Oktober 2026 tercatat inflasi sebesar 0,68 persen. Namun, yang menjadi sorotan utama adalah akumulasi laju inflasi dari awal tahun hingga Oktober (y-to-d) yang menyentuh angka 3,91 persen.

“Sampai dengan bulan Oktober sudah mencapai 3,91 persen. Ini warning ya sebenarnya,” ujar Toto Haryanto pada kegiatan konferensi pers Berita Resmi Statistik di kantor BPS setempat, Senin (2/11/2026),

Toto menjelaskan, target inflasi terkendali idealnya berada di kisaran 2,5 persen dengan deviasi plus minus 1 persen, yang berarti tingkat tertinggi yang diharapkan adalah 3,5 persen dan terendah 1,5 persen.

Dengan capaian 3,91 persen hingga bulan Oktober, Toto menyebut kondisi ini sebagai sinyal peringatan dini (warning) bagi daerah. Terlebih, laju inflasi tersebut masih menyisakan dua bulan terakhir di penghujung tahun yakni November dan Desember, di mana aktivitas masyarakat dan permintaan komoditas biasanya mengalami lonjakan musiman.

“Kalau kita mau lihat lagi inflasi selama 1 tahun kita tinggal hanya menunggu 2 bulan lagi. Nah sampai bulan Oktober ini ternyata inflasi kita sudah mencapai 3,91 di atas sedikit dari batas maksimal inflasi yang ditoleransi atau yang bisa dikendalikan,” jelasnya.

Berdasarkan data BPS Kalteng, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau kembali tercatat sebagai penyumbang andil terbesar terhadap pembentukan inflasi, baik secara bulanan, tahun kalender, maupun tahunan (year-on-year).

“Kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahun kalender Kalimantan Tengah sebesar 2,24. Ini menunjukkan apa? Kebutuhan bahan pokok kita sampai dengan bulan Oktober ini terus mengalami kenaikan. Itu poin yang harus kita perhatikan,” jelas Toto.

Komoditas pangan pokok seperti beras, daging ayam ras, ikan nila, hingga bensin memegang peranan dominan dalam menggerakkan kenaikan indeks harga konsumen di Kalteng.

“Dari 3,91 itu (inflasi y-to-d) andil terbesar itu ada di beras 0,69. Kemudian ikan nila 0,34, harga bensin 0,29, harga ikan patin memberikan andil 0,14, minyak goreng 0,13 dan beberapa komoditas kecil lainnya di bawah tapi kita ambil lima besar,” tambahnya.

Selain komoditas yang memberikam andil inflas, ada juga harga yang turun sampai bulan Oktober. Berdasarkan dasa BPS Kalteng, jarga-harga yang turun sampai bulan Oktober itu ada di bawang merah, ikan gabus, telur ayam ras, angkutan udara, dan udang basah.

“Inilah andil-andil lima besar yang mendorong terjadinya deflasi sehingga sampai bulan Oktober inflasi itu bisa ditahan. Ini komoditas andil deflasi ini sebagai bantalan supaya inflasi kita tidak terlalu meroket cepat,” imbuh Toto.

Dengan adanya rilis data ini, BPS Kalteng berharap Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan pemerintah daerah dapat memperkuat langkah-langkah antisipatif serta strategi pengendalian pasokan.

Hal ini krusial untuk meredam potensi lonjakan harga lanjutan demi menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat hingga akhir tahun 2026. (asp)