BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat pada Oktober 2026 terjadi inflasi secara bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,68 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap laju inflasi periode tersebut.
Hal tersebut disampaikan Kepala BPS Provinsi Kalteng, Toto Haryanto Silitonga, dalam kegiatan konferensi pers Berita Resmi Statistik di kantor BPS setempat, Senin (2/11/2026).
Ia menyampaikan bahwa dari 11 kelompok pengeluaran, tujuh kelompok di antaranya mengalami inflasi.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi atau memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulan Oktober 2026 di Kalimantan Tengah dengan andilnya sebesar 0,62 persen,” ujar Toto Haryanto Silitonga.
Ia merinci, kelompok pengeluaran tersebut secara keseluruhan memicu inflasi sebesar 1,58 persen.
Berdasarkan catatan BPS, komoditas utama yang mendorong inflasi bulanan (m-to-m) di Kalteng pada Oktober 2026 antara lain daging ayam ras dengan andil sebesar 0,15 persen, ikan nila 0,08 persen, ikan gabus 0,07 persen, cabai rawit 0,04 persen, serta kacang panjang sebesar 0,03 persen.
Meski demikian, laju inflasi bulanan tersebut berhasil diredam oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga atau deflasi.
Beberapa komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar di antaranya adalah minyak goreng dengan andil 0,03 persen, bawang merah dan emas perhiasan masing-masing 0,02 persen, serta angkutan udara.
“Seperti harga minyak goreng. Dia memberikan andil 0,03. Bahkan rumah tangga 0,02, emas perhiasan mulai ya kelihatan ya harga emas turun gini jadi 0,02, angkutan udara tingkat pesawat juga turun memberikan andil 0,02, bawang merah 0,01, dan sebagainya,” ungkap Toto.
Selain memaparkan perkembangan bulanan, BPS Kalteng juga merilis data inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) hingga Oktober 2026 yang telah mencapai 3,91 persen.
Angka ini dinilai telah melampaui sedikit dari batas maksimal sasaran inflasi yang ditoleransi, yakni berada di kisaran 2,5 persen dengan deviasi plus minus 1 persen.
“Sampai dengan bulan Oktober ini ternyata inflasi kita sudah mencapai 3,91 persen, di atas sedikit dari batas maksimal inflasi yang ditoleransi atau yang bisa dikendalikan,” ungkap Toto.
Ia menyebut capaian ini sebagai bentuk warning atau peringatan dini bagi pengendali inflasi daerah, mengingat masih ada sisa dua bulan menjelang akhir tahun yang biasanya diwarnai lonjakan permintaan dan aktivitas masyarakat.
Komoditas yang memberikan andil terbesar pada inflasi year-to-date (y-to-d) didominasi oleh beras dengan andil 0,69 persen, ikan nila 0,34 persen, bensin 0,29 persen, ikan patin 0,14 persen, serta minyak goreng sebesar 0,13 persen.
Sementara itu, untuk tingkat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Oktober 2026 tercatat sebesar 5,19 persen dibandingkan dengan Oktober 2025.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali mendominasi sebagai penyumbang andil terbesar secara y-on-y yakni sebesar 2,24 persen, dengan komoditas utama penyumbang meliputi beras, ikan nila, bensin, cabai rawit, hingga emas perhiasan.
“Tidak semuanya komoditas yang memberikan andil atau harganya jadi naik, ada juga yang turun di bulan Oktober dibandingkan bulan Oktober 2025 yaitu daging ayam ras tapi kecil 0,09 andilnya, telur ayam ras 0,06, bawang merah, angkutan udara, udang basah,” pungkasnya.
BPS Kalteng berharap data statistik dan rilis resmi ini dapat menjadi acuan bagi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) serta para pemangku kebijakan untuk mengambil langkah antisipatif yang tepat, khususnya dalam menjaga stabilitas harga pangan dan pasokan kebutuhan pokok. (asp)





