BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat kinerja Bank Umum di Kalteng terus menunjukkan pertumbuhan yang solid hingga November 2025, meski di tengah meningkatnya dinamika perekonomian global.
Kepala OJK Kalteng, Primandanu Febriyan Aziz, menilai kondisi tersebut mencerminkan stabilitas sektor jasa keuangan yang tetap terjaga dan mampu menopang perekonomian daerah secara berkelanjutan.
“Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Tengah (OJK Kalteng) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) di Provinsi Kalimantan Tengah tetap terjaga di tengah meningkatnya dinamika perekonomian global,” katanya, Selasa (13/1/2026).
Primandanu membeberkan, berdasarkan data OJK Kalteng, pada posisi November 2025 aset Bank Umum tercatat meningkat 20,76 persen secara tahunan (year on year/yoy) atau naik Rp17,75 triliun, dari Rp85,48 triliun menjadi Rp103,23 triliun.
Capaian tersebut menunjukkan ekspansi perbankan yang berjalan positif seiring meningkatnya aktivitas ekonomi di Kalimantan Tengah.
Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Umum juga mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 23,32 persen yoy atau meningkat Rp10,81 triliun, dari Rp46,33 triliun menjadi Rp57,14 triliun. Pertumbuhan DPK ini mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan di daerah.
Dari sisi penyaluran kredit, Bank Umum di Kalimantan Tengah mencatat pertumbuhan sebesar 9,03 persen yoy atau meningkat Rp4,51 triliun, dari Rp49,89 triliun menjadi Rp54,40 triliun.
Meski demikian, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat naik dari 1,63 persen menjadi 2,16 persen. Namun, OJK Kalteng menegaskan bahwa tingkat NPL tersebut masih berada dalam batas aman.
“Namun demikian, tingkat NPL masih terjaga berada di bawah 5 persen,” jelas Primandanu.
Lebih lanjut, struktur penyaluran kredit Bank Umum masih didominasi oleh kredit konsumtif sebesar Rp21,06 triliun atau 38,71 persen dari total kredit, disusul kredit modal kerja Rp19,51 triliun atau 35,86 persen, serta kredit investasi Rp13,83 triliun atau 25,42 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan peran perbankan dalam mendukung konsumsi masyarakat sekaligus pembiayaan sektor produktif.
Adapun sektor ekonomi dengan penyerapan kredit terbesar meliputi sektor rumah tangga sebesar Rp20,76 triliun atau 39,12 persen, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan Rp16,50 triliun atau 31,09 persen, serta sektor perdagangan besar dan eceran Rp10,01 triliun atau 18,86 persen.
Berdasarkan jenis usaha, penyaluran kredit Bank Umum masih didominasi oleh kredit non-UMKM sebesar Rp35,63 triliun atau 65,50 persen. Meski demikian, kredit kepada pelaku UMKM tetap menunjukkan kontribusi yang cukup signifikan melalui kredit mikro, kecil, dan menengah.
Primandanu menegaskan OJK Kalteng akan terus memperkuat sinergi dengan lembaga jasa keuangan, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya untuk menjaga momentum pertumbuhan Bank Umum di Kalimantan Tengah.
“OJK Kalteng berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan agar sektor perbankan dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah dan mendukung pembangunan yang berorientasi pada pemerataan dan keberlanjutan,” pungkasnya. (asp)
