BALANGANEWS, PALANGKA RAYA — Di saat perekonomian global menghadapi tekanan berat akibat perlambatan ekonomi internasional dan meningkatnya ketidakpastian global, kinerja ekonomi Kalimantan Tengah (Kalteng) justru menunjukkan daya tahan yang kuat.
Bank Indonesia mencatat, pertumbuhan ekonomi Kalteng pada 2025 mencapai 5,36 persen, tertinggi di Pulau Kalimantan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalteng, Yuliansyah Andrias mengungkapkan, bahwa kondisi ekonomi global saat ini diwarnai berbagai risiko, terutama akibat perang tarif yang dilancarkan Amerika Serikat dan berdampak pada pasar keuangan dunia.
“Kondisi ini memicu gejolak pasar keuangan dan tekanan nilai tukar di berbagai negara. Sehingga ketidakpastian global meningkat karena perang tarif dan berdampak pada pasar keuangan dunia, termasuk nilai tukar,” ucapnya.
Hal tersebut disampaikan Yuliansah Andrias pada kegiatan peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 di Aula Betang Hapakat, Lantai 4 Kantor BI Kalteng, Rabu (28/1/2025).
Namun demikian, Yuliansyah menegaskan bahwa perekonomian Indonesia secara umum masih cukup kuat untuk menahan dampak perlambatan global.
Permintaan domestik yang tetap tinggi dinilai menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat dan Jepang mengalami perlambatan.
Kondisi positif tersebut juga tercermin di Kalteng. Menurut Yuliansyah, pertumbuhan ekonomi daerah didorong oleh sejumlah sektor utama, antara lain konsumsi masyarakat yang tetap terjaga, meningkatnya kebutuhan crude palm oil (CPO) untuk biodiesel, serta penguatan sektor pertanian dan industri.
“Kami melihat ekonomi Kalimantan Tengah masih tumbuh positif. Pendorongnya antara lain konsumsi masyarakat, kebutuhan CPO untuk biodiesel, serta penguatan sektor pertanian dan industri,” tegasnya.
Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan tren positif ekonomi Kalimantan Tengah masih akan berlanjut pada 2026.
Untuk menjaga momentum tersebut, diperlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan, pengendalian stabilitas harga, serta dorongan berkelanjutan terhadap investasi dan digitalisasi sistem keuangan daerah.
Dengan fondasi ekonomi yang relatif kuat dan dukungan sektor riil, Kalimantan Tengah dinilai memiliki peluang besar untuk terus tumbuh dan berdaya tahan, meski perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian. (asp)
