Agustus 2026, Inflasi Tahunan Kalteng Capai 4,96 Persen

Kepala BPS Provinsi Kalteng, Toto Haryanto Silitonga, saat menyampaikan rilis resmi statistik.

BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat inflasi di Kalimantan Tengah pada Agustus 2026 mencapai 4,96 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Sementara secara bulanan, inflasi tercatat 0,17 persen, dengan inflasi tahun kalender sebesar 2,80 persen.

Kepala BPS Provinsi Kalteng, Toto Haryanto Silitonga, menyampaikan bahwa angka tersebut berdasarkan pemantauan perkembangan harga di empat kabupaten/kota yang menjadi wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK).

Pada Agustus 2026, IHK Kalteng mencapai 113,06, naik dari 107,72 pada Agustus 2025.

“Pada Agustus 2026, Provinsi Kalimantan Tengah mengalami inflasi tahunan year-on-year (y-on-y) sebesar 4,96 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,06,” kata Kepala BPS Kalteng, Toto Haryanto Silitonga.

Ia menjelaskan, kenaikan harga tersebut terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran secara tahunan.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 9,66 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 7,10 persen serta transportasi sebesar 6,73 persen.

Meski demikian, dari sisi andil terhadap inflasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 2,76 persen.

Kelompok transportasi memberikan andil 0,64 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,58 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,32 persen, serta perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,31 persen.

Beras menjadi komoditas yang paling besar mendorong inflasi tahunan Kalteng, dengan andil mencapai 0,87 persen. Berikutnya emas perhiasan sebesar 0,49 persen, bensin 0,33 persen, daging ayam ras dan ikan nila masing-masing 0,26 persen, serta minyak goreng 0,17 persen.

Sementara secara bulanan, beras juga menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,12 persen, disusul daging ayam ras 0,08 persen, bahan bakar rumah tangga 0,05 persen, ketimun 0,04 persen dan ikan peda 0,03 persen.

Lebih lanjut, Toto juga menjelaskan beberapa catatan peristiwa pada Agustus 2026 yang mempengaruhi kenaikan sejumlah komoditas, di antaranya penyesuaian tarif BBM nonsubsidi, kekeringan air sungai yang memengaruhi distribusi BBM dan LPG.

Selain itu juga, kebakaran hutan dan lahan yang berdampak terhadap produksi sejumlah komoditas hortikultura seperti ketimun, jagung dan terong.

Di sisi lain, permintaan daging ayam ras juga mengalami peningkatan. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan berbagai aktivitas masyarakat, termasuk peringatan Maulid Nabi, HUT RI dan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah berakhirnya periode libur sekolah.

Pada Agustus 2026, seluruh wilayah penghitungan IHK di Kalteng tercatat mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Kapuas menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi, yakni 6,20 persen, sedangkan inflasi terendah tercatat di Sampit sebesar 4,06 persen.

Kota Palangka Raya mengalami inflasi 4,69 persen dan Kabupaten Sukamara 4,33 persen.

Jika dibandingkan dengan Agustus 2025, inflasi tahunan Kalteng meningkat dari 2,08 persen menjadi 4,96 persen. Namun, inflasi bulanan Agustus 2026 justru lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni dari 0,44 persen menjadi 0,17 persen.

BPS mencatat, pada Agustus 2026 seluruh kabupaten/kota yang menjadi wilayah penghitungan IHK juga mengalami inflasi secara bulanan.

Kabupaten Sukamara mencatat inflasi m-to-m tertinggi sebesar 0,32 persen, sedangkan Kota Palangka Raya menjadi yang terendah dengan 0,12 persen.

“Sementara secara m-to-m, seluruh kabupaten/kota IHK di Kalimantan Tengah mengalami inflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Sukamara dengan inflasi m-to-m sebesar 0,32 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Palangka Raya sebesar 0,12 persen,” pungkas Toto. (asp)