Protes Pemadaman Listrik Kembali Terjadi, Massa GPG Bawa Telur Busuk ke PLN Palangka Raya

Massa Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) menggelar aksi demonstrasi di Kantor PLN UP3 Palangka Raya, menyuarakan protes terkait pemadaman listrik yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) kembali menggelar aksi demonstrasi jilid keenam di Kantor PLN UP3 Palangka Raya, untuk memprotes pemadaman listrik yang masih terjadi di sejumlah wilayah, Rabu (7/10/2026).

Dalam aksi tersebut, massa membawa telur busuk sebagai simbol kekecewaan terhadap komitmen dan penanganan kelistrikan oleh PLN UID Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng) yang dinilai belum sesuai dengan harapan masyarakat.

Juru Bicara Aksi GPG, Fiteli mengatakan, sebelumnya PLN menyampaikan kondisi kelistrikan di Palangka Raya dan Kalimantan Tengah diharapkan kembali stabil pada akhir Agustus hingga 5 September 2026.

Namun, menurut dia, hingga Rabu (7/10/2026) pemadaman masih terjadi di sejumlah wilayah. Fiteli menyebut informasi terbaru yang diterima dari PLN menunjukkan pemadaman masih berlangsung pada Rabu siang.

“Tetapi nyatanya sampai hari ini, terakhir tadi update informasi dari PLN, jam 11 masih ada pemadaman,” ujarnya.

Fiteli mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi masyarakat terkait kondisi kelistrikan yang dinilai belum sepenuhnya normal.

“Kita ini sudah mengalami kabut asap. Jangan dilipatgandakan penderitaan masyarakat Kalteng,” tegasnya.

Saat aksi berlangsung, massa berupaya masuk ke area Kantor PLN UP3 Palangka Raya untuk menyerahkan telur busuk sebagai simbol protes. Upaya tersebut sempat diwarnai gesekan antara massa aksi dan petugas keamanan.

Fiteli menjelaskan, penggunaan telur busuk merupakan simbol kritik terhadap pernyataan General Manager PLN yang menurut massa tidak sesuai dengan kondisi kelistrikan yang mereka rasakan di lapangan.

“Kita membawakan telur busuk. Artinya kita berekspresi, telur busuk itu melambangkan omongan General Manager yang busuk terhadap masyarakat Kalteng, khususnya Palangka Raya,” ucapnya.

Menurut Fiteli, durasi pemadaman saat ini memang mengalami penurunan dibandingkan kondisi sebelumnya. Ia menyebut pemadaman yang sebelumnya berlangsung sekitar tujuh hingga delapan jam kini berkisar tiga sampai empat jam.

Meski demikian, Aliansi GPG menilai pengurangan durasi tersebut belum menyelesaikan persoalan secara keseluruhan. Massa meminta kondisi kelistrikan kembali normal dan tidak lagi menerapkan pemadaman bergilir.

“Memang pengurangan pemadaman dari tujuh sampai delapan jam, sekarang tinggal tiga sampai empat jam. Tetapi yang kita minta supaya berjalan normal, tidak ada pemadaman bergilir tersebut,” jelasnya.

Terkait upaya massa memasuki kantor PLN, Fiteli mengatakan, aksi tersebut tidak dimaksudkan untuk merusak fasilitas. Ia juga menyatakan kesiapan bertanggung jawab apabila ditemukan kerusakan yang terbukti terjadi akibat aksi tersebut.

“Kalau ada satu pun fasilitas di kantor PLN UP3 Palangka Raya ini yang rusak, kami siap bertanggung jawab,” tegasnya.

Aliansi GPG selanjutnya menyatakan akan kembali menggelar aksi karena General Manager PLN UID Kalselteng tidak menemui massa dalam demonstrasi tersebut.

Massa meminta adanya pertemuan dengan pihak PLN untuk memperoleh penjelasan mengenai kondisi dan penyebab pemadaman serta kepastian mengenai langkah penyelesaian gangguan kelistrikan di Palangka Raya.

Tanggapan PLN diperlukan untuk menjelaskan kondisi kelistrikan, penyebab pemadaman, serta langkah yang dilakukan untuk memastikan keandalan pasokan listrik di Palangka Raya dan sekitarnya. (red)