Kalteng Siap Wujudkan Pembelajaran Bahasa Inggris Tuntas di SD

PALANGKA RAYA – Dewan Riset Daerah Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan sepakat dan mulai mewujudkan pembelajaran atau pembiasaan Bahasa Inggris sejak anak berusia dini sehingga bisa tuntas saat anak lulus Sekolah Dasar.

“Setiap anak yang lulus dari Sekolah Dasar di seluruh wilayah , selanjutnya bisa langsung masuk dalam interaksi tinggi yang mensyaratkan kemampuan beradaptasi dengan Bahasa Inggris,” ucap Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Kalteng Prof.Dr.Sulmin Gumiri, M.Sc pada rapat pembahasan final dokumen penyusunan Blue Print/Grand Kalteng 2024 di Palangka Raya, Kamis (7/11/2019).

DRD Kalteng segera mengomunikasikan dengan para pihak terutama Gubernur Kalteng untuk segera menjadikan bagian dari rencana perubahan kurikulum pendidikan di antaranya dengan memaksimalkan proses pembiasaan dan pengajaran Bahasa Inggris  tingkat Sekolah Dasar.

Pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SD sebagai upaya percepatan menyiapkan generasi milenial di Provinsi Kalteng agar secara mental dan budaya siap masuk dalam interaksi dan pergaulan .

Diharapkan kebijakan penuntasan pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SD bisa mulai dijalankan pada semester kedua atau awal tahun 2020 secara bertahap di seluruh wilayah Kalteng.

“Saya kira semua kita merasa perlu untuk segera melakukan penuntasan pengajaran Bahasa Inggris di tingkat SD se-Kalteng. Apalagi Pak Gubernur yang biasa mau serba cepat melakukan kebijakan untuk penguatan masyarakat,” ucap Prof Sulmin Gumiri yang juga anggota Tim Percepatan Provinsi Kalteng didampingi Kabid Penelitian dan Pengembangan Bappeda Provinsi,  Mimi.

Para anggota DRD yang merupakan kalangan akademisi menyatakan optimistis Plt Kadis Pendidikan Provinsi Kalteng Dr.Mofid Saptono Subagio yang juga seorang dosen karier, pasti bisa cepat mewujudkan program pembelajaran Bahasa Inggris tuntas di tingkat Sekolah Dasar.

Rapat pembahasan final dokumen penyusunan Blue Print/Grand Design Kalteng 2024 di Palangka Raya itu juga sebagai bagian dari menyiapkan wilayah Provinsi Kalteng sebagai Daerah Penyangga Ibu kota Negara baru di wilayah provinsi tetangga Kalimantan Timur.

Menteri Pendidikan dan , Nadiem Anwar Makarim saat audiensi dan diskusi dengan sejumlah pemangku kepentingan di dunia pendidikan di antaranya dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI) menyatakan hal yang perlu dilakukan dalam pembenahan sistem pendidikan di Indonesia, termasuk penghapusan pembelajaran Bahasa Inggris di SMP dan SMA.

Dewan Pimpinan Pusat IGI mengusulkan 10 Revolusi Pendidikan berupa penataan ulang postur kurikulum SD hingga SMA sederajat.

Di tingkat Sekolah Dasar, IGI mengusulkan untuk mengubah postur mata pelajaran utama. Di antaranya menjadikan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan berbasis agama dan Pancasila ke dalam mata pelajaran utama.

“Dengan begitu, pembelajaran Bahasa Inggris di SMP dan SMA dihapuskan, karena seharusnya sudah dituntaskan di SD. Pembelajaran bahasa Inggris fokus ke percakapan, bukan tata bahasa,” kata Ketua IGI M Ramli di siaran , Senin (4/11).

Tak hanya itu, jumlah mata pelajaran di SMP juga, kata Ramli, sebaiknya dibatasi maksimal lima mata pelajaran. Dengan basis utama yang ditekankan adalah pada Coding. Sementara itu, tingkat SMA juga dimaksimalkan enam mata pelajaran. (ant/ari)