ASRIANOOR, pulang pisau
BALANGANEWS – Lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga tentara, tak membuat edy pratowo kehilangan masa mudanya. Hari-hari yang ia jalani sewaktu muda sama seperti pemuda lainnya. Tapi di antara enam saudaranya, hanya Edy Pratowo yang paling beda. Ini kisah masa mudanya…
Lulus SMA pada tahun 1988 Edy memulai kisah mudanya. Tumbuh sebagai pribadi yang sociable (suka bergaul dan ramah) membuat Edy muda disukai banyak teman.
Tahukah pembaca? Ternyata saat muda Edy Pratowo tak pernah terpikir menjadi seorang politikus. Orang tuanya bahkan mendorong dia mengikuti jejak ayahnya Cpt Suyono menjadi seorang prajurit TNI. Tapi Edy muda malah berkeinginan lain.
“Saya sempat ingin kuliah di akademi seni musik di Jakarta, saya sudah survei dan tinggal di tempat pak de di Jakarta. Tapi entah kenapa saya urungkan dan masuk ke Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin di fakultas Ilmu Sosial Politik jurusan Administrasi Negara,” kata Edy berbincang santai di rumah jabatan Bupati Pulang Pisau, baru-baru tadi.
Saat menjadi mahasiswa, Edy aktif di berbagai kegiatan kampus. Edy sering mengisi tulisan di kolom majalah kampus. Kebiasaan menulis itulah yang kemudian membuat dia tertarik dengan dunia jurnalis.
Lulus kuliah di tahun 1994 Edy melamar pekerjaan menjadi wartawan di salah satu koran harian terkemuka di Kalimantan Selatan. Cukup lama ia bekerja sebagai jurnalis hampir 6 tahun lamanya.
Edy masih ingat kawan-kawan dekatnya yang saat ini sudah jadi jurnalis senior seperti Erianto Kamis, Zainal Hakim, Hanafi (Alm), Sahruji (Alm), dan banyak lagi. “Setiap hari kami menulis berita tentang seputar informasi di Kabupaten Kapuas,” kata dia.
Di era reformasi tahun 1999, kawan-kawannya pula lah yang mendorong dirinya masuk ke dunia politik dan menjadi pengurus Partai Golkar di Kabupaten Kapuas sebagai Wakil Ketua Bidang Humas dan Mass Media.
“Saya diminta Pak Punding LH Bangkan yang waktu itu Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Kapuas, agar teman-teman pers membantu mempublikasikan keberadaan Golkar. Di usia kurang lebih 29 tahun saya kemudian ditunjuk menjadi anggota DPRD Kabupaten Kapuas periode 1999-2003, itu awal karir politik saya,” ungkap Edy.
Selama menjadi anggota DPRD Kapuas, Edy dipercaya memimpin sejumlah organisasi massa dan kepemudaan. Seperti KNPI, FKPPI, AMPI, Ikatan Pemuda Karya (IPK), dan Pramuka. Memimpin sejumlah organisasi massa membuat kemampuan dan pengalaman berpolitiknya semakin terasah dengan baik dan membentuk karakter.
“Sebenarnya bukan coba-coba, saya terjun ke dunia politik karena dorongan kawan-kawan, tapi memang saya juga punya basic pendidikan saat kuliah, jadi ya mengalir saja,” tutur Edy.
Dari enam saudaranya, memang hanya Edy Pratowo yang menggeluti bidang politik. Lima saudara lainnya ada yang jadi perwira TNI dan perwira polisi. Satu-satunya saudara perempuan Edy, Hj Deni Widanarni menjadi ASN, kini menjabat Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Pulang Pisau.
“Tiga saudara laki-laki saya perwira TNI, yang paling bungsu perwira polri, namanya Jemi Junaidi, pangkatnya Kombes Pol dan sekarang menjadi Kepala SPN Polda Sulawesi Tenggara,” ujar Edy.
Edy mengakui, posisi yang diraihnya sekarang tidak lepas dari dukungan keluarga, kawan-kawan dekat dan pengalaman hidup yang dilewatinya. Prinsip hidupnya simple, katanya seperti air mengalir saja menjalani hidup dan tidak ngoyo.
“Tapi bukan alon-alon waton kelakon. Saya prinsipnya tak ingin mengecewakan orang lain atas keputusan yang saya ambil, oleh sebab itu saya selalu berhati-hati dan betul-betul mempertimbangkan setiap kebijakan yang saya buat di waktu yang tepat. Orang bilang saya punya wisdom (kebijaksanaan),” ungkap pria 51 tahun ini sembari tersenyum tanpa bermaksud membanggakan diri.
Mungkin saja, imbuhnya, orang lain menilai dirinya lambat mengambil suatu kebijakan. Namun justru Edy merasa itu adalah kekuatan dirinya. Terbukti dengan gaya kepemimpinannya tersebut, Edy telah menaiki tangga demi tangga kesuksesan. Itu fakta!
Pria yang saat ini dicalonkan sebagai Wakil Gubernur Kalteng mendampingi sugianto sabran ini juga mengaku menyukuri apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. “Mencintai dan menekuni pekerjaan itu kan bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan,” sebut Edy.
Hal penting dalam hidup Edy lainnya adalah motto-nya yakni ingin memberikan sumbangsih kepada masyarakat yang selama ini telah memberikan kepercayaan kepada dirinya. Menurutnya jabatan itu hanya titipan.
“Selain bersyukur kepada Tuhan kita juga berterimakasih kepada masyarakat. Saya ingin memberikan pengabdian terbaik untuk kepentingan masyarakat tanpa membedakan satu sama lainnya. Perbedaan itu kan keindahan dan kita harus menghargainya, prinsip saya di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung,” tukasnya.
Dia menyadari, sebagai manusia tentu masih banyak kekurangan. “Dengan menyadari kekurangan, kita bisa mengintrospeksi diri untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Yang penting kita mau belajar dan membuka diri terhadap kritik orang lain agar kita bisa memperbaiki diri,” sebut Edy.