Karya: Rahmi Nurfitriana
Suatu hari, di sebuah laut biru yang luas, hiduplah seekor gurita bernama Gura. Ia tinggal di antara terumbu karang yang indah, tempat ikan-ikan kecil berenang dan cahaya matahari menembus permukaan air. Di atas laut itu, terdapat langit yang terbentang luas tanpa batas. Meski hidup di tempat yang berbeda, Gura selalu senang melihat seekor elang yang sering terbang melintas di atas tempat tinggalnya.
Angin laut berembus lembut membawa aroma air asin hingga ke tepian pantai. Sesekali angin bertiup lebih kencang, membuat ombak bergulung dan membawa Elang terbang semakin tinggi. Gura selalu menunggu saat angin membawa Elang mendekat ke laut, karena saat itulah mereka bisa saling menyapa.
“Aku ingin sekali kita bisa bermain bersama setiap hari,” kata Gura.
“Aku juga,” jawab Elang. “Tapi aku tidak bisa tinggal di laut, dan kamu tidak bisa tinggal di langit.”
Meski begitu, mereka tetap menjadi sahabat. Setiap kali Elang terbang rendah, Gura akan muncul ke permukaan. Mereka bercerita tentang hari masing-masing, saling bercanda, lalu berpisah ketika Elang harus kembali ke langit dan Gura kembali ke laut.
Suatu hari, Elang tidak kunjung datang. Gura menunggu di tempat biasanya. Pagi berlalu, siang berganti sore, tetapi Elang belum terlihat. Hari berikutnya pun begitu. Gura mulai merasa sedih, tetapi ia tetap percaya bahwa sahabatnya akan kembali.
Gura menunggu di tempat biasanya. Satu hari berlalu. Dua hari. Sepuluh hari. Sebulan. Namun, Elang tetap tidak terlihat. Gura terus menunggu beratus-ratus hari. Setiap pagi ia naik ke permukaan, memandang langit, berharap melihat kepakan sayap sahabatnya. Bahkan ketika hari mulai gelap, ia masih percaya Elang akan datang.
Banyak ikan bertanya, “Gura, mengapa kamu masih menunggu? Mungkin Elang sudah melupakanmu.”
Gura hanya tersenyum. “Aku tidak tahu kapan dia akan kembali. Tapi aku tahu, kalau dia masih mengingat persahabatan kami, suatu hari dia pasti datang.”
Beratus-ratus hari kemudian, angin kembali berembus dari kejauhan. Gura yang sedang berada di antara karang tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda. Ia berenang ke permukaan dan melihat seekor elang terbang melingkar di langit.
“Elang!”
Elang turun mendekati permukaan laut. “Gura, maaf aku pergi begitu lama.”
Gura tersenyum haru. “Tidak apa-apa. Aku memang menunggumu.”
“Aku takut kamu sudah melupakanku,” kata Elang.
“Bagaimana mungkin?”
Setelah pertemuan itu, mereka kembali berpisah. Elang mengepakkan sayapnya menuju langit, sementara Gura perlahan menenggelamkan dirinya ke dalam laut.
Keesokan harinya, Elang kembali datang. Ia terbang rendah di atas laut, mencari sosok Gura di antara riak-riak air dan terumbu karang. Namun, Gura tidak terlihat. Elang menunggu. Ia berputar di tempat yang sama berkali-kali, berharap Gura tiba-tiba muncul seperti biasanya.
Namun, hari semakin sore dan Gura tetap tidak muncul.
Elang akhirnya menangis tersedu-sedu. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sendiri sakitnya menunggu. Ia baru mengerti bahwa selama beratus-ratus hari, Gura telah merasakan hal yang sama.
“Gura… sekarang aku tahu rasanya menunggumu,” isaknya. “Ternyata sesakit ini…”
Dalam tangisnya, Elang terdiam. Ia kembali mengingat beratus-ratus hari ketika dirinya tidak datang menemui Gura. Bukan karena ia melupakan sahabatnya, bukan pula karena ia tidak ingin bertemu. Ada begitu banyak hal di luar kendalinya yang membuatnya tidak bisa kembali ke laut.
Elang menatap permukaan laut yang tenang. Tiba-tiba ia berpikir, mungkin Gura juga sedang mengalami hal yang sama. Mungkin di bawah laut sana, Gura sedang menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan. Mungkin Gura juga ingin datang, tetapi belum mampu.
Air mata Elang kembali jatuh.
“Kalau begitu, aku akan menunggumu, Gura. Kali ini, aku mengerti.”
Ia tetap terbang di atas laut, menunggu tanpa tahu kapan Gura akan muncul. Karena akhirnya ia memahami satu hal: Dan persahabatan yang tulus adalah tentang belajar memahami, bukan hanya menuntut untuk selalu ditemani.





