Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan FKIP Universitas Palangka Raya
Ketua Tim: Ni Putu Diah Agustin Permanasuri, ST., M.Ars | Kepala Desa Petuk Liti: Negu, S.Pd
BALANGANEWS, PULANG PISAU – Warga Desa Petuk Liti, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, mendapat pengalaman baru dalam memanfaatkan bahan-bahan yang selama ini mudah ditemukan di sekitar mereka. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, tim Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan FKIP Universitas Palangka Raya memperkenalkan kompor biomassa berbasis blower DC tenaga surya. Kegiatan dipimpin Ni Putu Diah Agustin Permanasuri, ST., M.Ars dan mendapat dukungan Pemerintah Desa Petuk Liti yang dipimpin Kepala Desa Negu.
Kompor ini dirancang untuk memanfaatkan biomassa lokal seperti ranting kayu kering, tempurung, serbuk kayu, sekam, pelepah, dan limbah pertanian kering sebagai bahan bakar. Bagi masyarakat, keunggulan utamanya adalah bahan bakar lebih mudah diperoleh dari lingkungan sekitar sehingga limbah organik yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat memiliki nilai guna. Teknologi ini juga dilengkapi blower DC yang membantu memasukkan udara ke ruang bakar agar api lebih stabil dan proses pembakaran berlangsung lebih baik.
Blower mendapat dukungan energi dari panel surya, baterai, dan pengendali pengisian. Artinya, alat tidak hanya mengenalkan cara memanfaatkan biomassa, tetapi juga memperlihatkan kepada warga bahwa energi matahari dapat digunakan untuk membantu kebutuhan sederhana sehari-hari. Sistem tersebut dibuat agar mudah dipahami, sehingga masyarakat dapat melihat langsung hubungan antara bahan bakar, udara, nyala api, panas, dan energi surya tanpa harus mempelajari teknologi yang rumit.
Kegiatan utama pada 24 September 2026 diikuti 25 warga. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga melihat demonstrasi, mencoba mengoperasikan kompor, mengatur blower, memperhatikan nyala dan asap, serta belajar cara mematikan dan merawat alat dengan aman. Hasil evaluasi menunjukkan pemahaman peserta meningkat. Nilai rata-rata pengetahuan naik dari 70,0 menjadi 92,4, sedangkan keterampilan praktik rata-rata mencapai 90,2 persen. Penilaian pengguna terhadap teknologi juga cukup tinggi, dengan skor rata-rata 4,23 dari skala 5.
Manfaat blower terlihat pula pada uji sederhana di lapangan. Ketika digunakan untuk memanaskan dua liter air, kompor dengan blower membutuhkan waktu rata-rata 10,8 menit, sedangkan tanpa blower sekitar 15,9 menit. Pada kondisi menggunakan blower, jumlah biomassa yang terpakai juga lebih rendah. Hasil ini memberi gambaran sederhana bahwa suplai udara yang lebih baik dapat membantu mempercepat pemanasan dan membuat penggunaan bahan bakar lebih hemat. Selama pengujian, kondisi asap dengan blower juga terlihat lebih rendah dibandingkan saat blower tidak digunakan.
Bagi masyarakat Desa Petuk Liti, kompor ini diharapkan bukan sekadar menjadi alat demonstrasi. Teknologi tersebut dapat menjadi contoh bagaimana sumber daya lokal dan energi matahari dapat dipadukan menjadi teknologi yang sederhana dan bermanfaat. Masyarakat juga memperoleh pengetahuan tentang penggunaan alat yang aman, pemeriksaan kabel dan sambungan, pemilihan biomassa kering, serta perawatan setelah kompor digunakan.
Setelah kegiatan selesai, unit kompor dan SOP pengoperasian diserahkan kepada mitra agar dapat dimanfaatkan kembali. Pada monitoring awal, alat telah digunakan beberapa kali dan belum ditemukan kerusakan utama. Keterlibatan Ni Putu Diah Agustin Permanasuri sebagai ketua tim, Kepala Desa Negu, perangkat desa, dan warga menjadi bagian penting agar teknologi ini tidak berhenti pada saat kegiatan berlangsung saja. Melalui pendampingan dan pemanfaatan berkelanjutan, kompor biomassa berbasis blower DC tenaga surya diharapkan dapat membantu masyarakat mengenal pilihan energi yang lebih efisien, memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar desa, serta membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang aman dan ramah lingkungan. ()





