Balanganews.com
Home » Eksekutif » Pemprov Kalteng » Disdik Kalteng Dorong AI, Coding, dan STEM Jadi Budaya Belajar di Sekolah
Pemprov Kalteng

Disdik Kalteng Dorong AI, Coding, dan STEM Jadi Budaya Belajar di Sekolah

1768712338 13a3a284cda24d9d35ba

BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Dinas Pendidikan (Disdik) Kalimantan Tengah (Kalteng) menegaskan komitmennya untuk menjadikan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), coding, serta Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) sebagai bagian dari budaya belajar di sekolah pada tahun 2026.

<span;>Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Disdik Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, dalam lanjutan rapat koordinasi daring bersama pengawas dan kepala SMA, SMK, serta Sekolah Khusus (SKH) se-Kalteng, Sabtu (17/1/2025).

Reza menekankan bahwa guru harus mulai terbiasa memanfaatkan AI dan coding dalam proses pembelajaran.

Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi kebutuhan mendesak agar pendidikan di daerah mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan tuntutan global.

“Kalau di pusat orang bicara STEM, kita di daerah sudah bicara implementasinya. STEM ini harus berdampak dan punya manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Ia menyampaikan bahwa penerapan STEM tidak cukup sebatas konsep, tetapi harus diwujudkan dalam aktivitas pembelajaran yang relevan dengan kehidupan peserta didik.

Oleh karena itu, guru didorong untuk mengintegrasikan teknologi dan pendekatan ilmiah secara kontekstual di kelas.

Reza juga menekankan pentingnya riset berbasis lingkungan dan potensi lokal.

Ia mencontohkan penelitian siswa yang memanfaatkan air gambut dengan sistem katoda dan anoda hingga mampu menyalakan lampu sebagai bukti bahwa riset dapat dilakukan secara aplikatif dan sesuai dengan kondisi daerah.

“Di Basarang misalnya, potensi nanas sangat besar. Dulu gula dari tebu, sekarang dari jagung atau stevia, tidak menutup kemungkinan nanti dari nanas. Jangan pernah ragu untuk berinovasi,” katanya.

Untuk SMK, ia mendorong riset yang selaras dengan kompetensi keahlian seperti teknologi jaringan dan bidang vokasi lainnya. Bahkan, Reza menargetkan konsep one school one product sebagai standar minimal inovasi sekolah.

“Bayangkan kalau dari lebih 400 sekolah, masing-masing menghasilkan satu produk inovasi setiap tahun. Ini potensi luar biasa,” ungkapnya.

Ke depan, Disdik Kalteng berencana menggelar pekan inovasi berbasis zonasi wilayah serta membuka peluang kolaborasi dengan dunia usaha melalui program CSR agar hasil inovasi siswa dapat terus berkembang dan berdampak luas.

“CSR yang disalurkan harus berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat. Tidak menutup kemungkinan, dari sini akan lahir inovasi yang bisa menembus tingkat nasional bahkan internasional,” pungkasnya. (asp)

Berita Terkait