Jaga Ekosistem Pesisir Hingga Perikanan, Dislutkan Kalteng Ajak Warga Jaga Mangrove

Kepala Dislutkan Provinsi Kalteng, Sri Widanarni

BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) terus mengintensifkan upaya pelestarian ekosistem mangrove di wilayah pesisir.

Langkah utama yang diambil adalah memperkuat edukasi kepada masyarakat pesisir agar memiliki kesadaran kolektif dalam menjaga benteng alami tersebut.

Kepala Dislutkan Provinsi Kalteng, Sri Widanarni, menegaskan bahwa keberadaan mangrove bukan sekadar tanaman pesisir, melainkan pilar utama bagi keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sektor perikanan daerah.

“Yang paling utama adalah bagaimana kita menyadarkan masyarakat pesisir agar memahami manfaat mangrove. Jika mereka paham, maka mereka akan ikut menjaga,” ujar Sri Widanarni saat menghadiri Workshop Rencana Aksi Kelompok Kerja Mangrove Daerah di Palangka Raya, Senin (13/4/2026).

Ia menjelaskan, Hutan mangrove berfungsi sebagai habitat krusial atau spawning ground bagi berbagai biota laut, terutama ikan dan udang untuk berkembang biak.

Kerusakan pada ekosistem tersebut dipastikan akan berdampak langsung pada menurunnya hasil tangkapan nelayan di masa depan.

“Kalau mangrove terjaga, maka ikan dan udang akan tetap ada. Karena di situlah mereka berkembang biak. Tapi kalau mangrove rusak atau hilang, maka sumber daya perikanan juga akan ikut menurun,” tambahnya.

Selain aspek perikanan, Sri juga mengingatkan peran vital mangrove sebagai pelindung daratan dari ancaman abrasi dan degradasi garis pantai yang kian nyata akibat perubahan iklim.

“Oleh karena itu, menjaga mangrove tidak hanya berdampak pada sektor perikanan, tetapi juga pada perlindungan lingkungan secara keseluruhan,” tuturnya.

Sebagai solusi ekonomi bagi masyarakat, Dislutkan Kalteng mendorong penerapan metode yang ramah lingkungan seperti silvofishery. Pola ini memungkinkan warga tetap mendapatkan penghasilan, misalnya melalui budidaya kepiting, tanpa harus membabat atau merusak kawasan mangrove.

“Contohnya seperti silvofishery, yakni pemanfaatan kawasan mangrove untuk kegiatan perikanan tanpa merusak lingkungan. Ini bisa menjadi solusi ekonomi sekaligus menjaga kelestarian,” jelas Sri. (asp)