BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) melalui Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) memperkuat patroli udara dan darat menyusul meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memasuki puncak musim kemarau 2026.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat deteksi dini sekaligus memastikan setiap indikasi titik api dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalteng, Ahmad Toyib, mengatakan patroli terpadu menjadi strategi utama dalam menghadapi meningkatnya potensi karhutla di berbagai wilayah.
“Patroli terpadu kami lakukan setiap hari untuk memantau wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi terjadi kebakaran. Begitu ditemukan hotspot atau indikasi titik api, tim di lapangan langsung melakukan pengecekan dan penanganan agar api tidak meluas,” katanya.
Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana (Posko PDB) Karhutla BPB-PK Kalteng per Selasa (21/7/2026) pukul 18.00 WIB, terpantau sebanyak 117 hotspot tersebar di seluruh kabupaten dan kota.
Pada periode yang sama juga tercatat 30 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 27,09 hektare.
Kabupaten Kapuas menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 22 titik.
Disusul Lamandau 21 titik, Pulang Pisau 17 titik, Sukamara 15 titik, Kotawaringin Timur 10 titik, Barito Selatan delapan titik, Gunung Mas enam titik, Kotawaringin Barat, Seruyan, dan Kota Palangka Raya masing-masing lima titik, Barito Utara dua titik, serta Katingan satu titik.
Sementara Murung Raya dan Barito Timur tidak terpantau memiliki hotspot.
Dari sisi kejadian karhutla, Kota Palangka Raya mencatat jumlah terbanyak dengan 12 kejadian dan luas lahan terbakar mencapai 7,09 hektare.
Kotawaringin Timur mengalami empat kejadian seluas 5,25 hektare, Barito Selatan tiga kejadian seluas 7,03 hektare, Murung Raya tiga kejadian seluas 1,26 hektare, sedangkan Kotawaringin Barat, Seruyan, dan Sukamara masing-masing dua kejadian.
Barito Utara dan Lamandau masing-masing tercatat satu kejadian.
Untuk mempercepat pemantauan, BPB-PK Kalteng mengerahkan empat unit helikopter patroli udara.
Selain itu, sebanyak 238 personel gabungan yang terdiri atas BPB-PK, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD kabupaten/kota, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta unsur terkait lainnya disiagakan melakukan patroli darat dan penanganan di lokasi.
Menurut Ahmad Toyib, kecepatan respons menjadi faktor penting dalam menekan dampak kebakaran selama musim kemarau.
“Partisipasi masyarakat sangat penting dalam pencegahan karhutla. Apabila menemukan titik api maupun kepulan asap, segera laporkan kepada petugas agar dapat segera ditindaklanjuti. Pencegahan tetap menjadi langkah yang paling efektif dalam menghadapi musim kemarau,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan yang rawan terbakar.
BPB-PK Kalteng memastikan koordinasi dengan TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah kabupaten dan kota, relawan, serta masyarakat terus diperkuat agar upaya pencegahan dan penanganan karhutla berjalan optimal, sehingga risiko kabut asap pada musim kemarau tahun ini dapat ditekan semaksimal mungkin. (asp)





