BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menyiagakan sekitar 10.700 personel gabungan di seluruh wilayah.
Kekuatan tersebut melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, pemadam kebakaran, masyarakat peduli api, serta berbagai pihak terkait.
Kesiapsiagaan di darat juga didukung operasi udara dengan enam unit helikopter dan satu unit pesawat OMC/patroli.
Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya aktivitas karhutla memasuki musim kemarau. Berdasarkan data BPBD Kalteng yang diperbarui Senin (7/9/2026) pukul 18.00 WIB, tercatat sebanyak 1.727 titik hotspot dalam perkembangan harian.
Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, mengatakan penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Menurutnya, diperlukan koordinasi dan kesiapsiagaan bersama agar setiap potensi kebakaran dapat segera ditangani sekaligus mengurangi dampaknya terhadap masyarakat.
“Karhutla merupakan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan seluruh pihak agar setiap potensi kebakaran dapat segera ditangani. Yang paling utama adalah melindungi masyarakat dan menjaga lingkungan Kalteng tetap aman dari dampak kabut asap,” ujar Agustiar Sabran.
Berdasarkan laporan lapangan kabupaten/kota kepada Pusdalops PB Provinsi Kalteng, hingga periode tersebut terdapat 47 kejadian karhutla dengan estimasi luas area terbakar mencapai 100,44 hektare.
Katingan menjadi wilayah dengan hotspot harian tertinggi sebanyak 338 titik, disusul Pulang Pisau 299 titik, Seruyan 297 titik, Kotawaringin Timur 271 titik, dan Palangka Raya 155 titik.
Dari sisi luas area terbakar harian, Kapuas tercatat paling tinggi dengan 46 hektare. Berikutnya Seruyan 12,5 hektare, Gunung Mas 10,52 hektare, Kotawaringin Timur 10 hektare, dan Kotawaringin Barat 9,25 hektare.
Secara kumulatif sejak 1 Januari hingga 7 September 2026 pukul 18.00 WIB, Kalteng mencatat 104.140 hotspot dan 2.698 kejadian karhutla.
Luas area terbakar berdasarkan laporan lapangan mencapai 8.139,12 hektare, sementara berdasarkan citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS mencapai 7.634 hektare.
Kotawaringin Timur menjadi daerah dengan akumulasi hotspot terbanyak, yakni 20.570 titik, disusul Kapuas 18.135 titik, Palangka Raya 15.143 titik, Pulang Pisau 11.542 titik, dan Katingan 9.315 titik.
Sementara itu, luas karhutla kumulatif terbesar tercatat di Kotawaringin Timur sebesar 2.423,24 hektare, kemudian Kotawaringin Barat 1.082,74 hektare, Seruyan 1.028,64 hektare, Kapuas 646,89 hektare, dan Palangka Raya 534,53 hektare.
Pemerintah juga memperkuat langkah penegakan hukum. Hingga 7 September 2026, tercatat 32 penanganan penegakan hukum terkait pelanggaran karhutla.
Dampak terhadap kesehatan masyarakat turut menjadi perhatian. Data yang dihimpun mencatat sebanyak 79.081 orang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif, termasuk 6.734 orang pada Minggu IV Agustus 2026.
Sebagai bagian dari mitigasi, Pemprov Kalteng menyiapkan 150 lokasi Rumah Oksigen dan mendukung penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada sembilan kabupaten/kota menyesuaikan kondisi masing-masing wilayah.
Pemprov Kalteng juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan gambut dan wilayah rawan kebakaran. Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani secara cepat.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama pemerintah, aparat, dunia usaha dan masyarakat untuk menekan risiko karhutla serta melindungi lingkungan dan kesehatan masyarakat di tengah musim kemarau. (asp)





