Balanganews.com
Home » Legislatif » DPRD Kalteng » DPRD Kalteng Dukung Program Satu Rumah Satu Sarjana Penopang Cetak Sawah
DPRD Kalteng

DPRD Kalteng Dukung Program Satu Rumah Satu Sarjana Penopang Cetak Sawah

Whatsapp Image 2025 10 25 At 2.21.51 Pm
Anggota DPRD Kalteng, Bambang Irawan. (ist)

BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Bambang Irawan, menyatakan dukungan penuh terhadap implementasi program Satu Rumah Satu Sarjana yang diproyeksikan menjadi pilar pendukung kesuksesan program cetak sawah di wilayah setempat.

Program yang merupakan inisiatif Pemerintah Pusat tersebut dinilai semakin kuat dengan adanya sinergi melalui program gagasan Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran.

Bambang menyebut kolaborasi kebijakan ini sebagai terobosan strategis untuk membangun kedaulatan pangan di Bumi Tambun Bungai.

“Sehingga program ini merupakan gebrakan yang bagus dan saling melengkapi, sehingga Komisi II DPRD Kalimantan Tengah mendukung hal itu,” ucap Bambang Irawan, Selasa (3/2/2026).

Politisi PDI Perjuangan ini mengungkapkan bahwa tantangan utama Kalimantan Tengah saat ini adalah keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni dalam pelaksanaan program cetak sawah secara masif.

Masalah tersebut diperparah dengan minimnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian, meskipun pemerintah pusat telah meluncurkan program pendukung seperti Petani Milenial.

“Oleh karena itu, fokus kita itu harus kepada anak muda, sehingga bagaimana caranya supaya anak muda tersebut berorientasi di bidang pertanian dan hal ini perlu menjadi perhatian,” jelasnya.

Melalui kehadiran program Satu Rumah Satu Sarjana, diharapkan muncul intelektual-intelektual muda dari setiap keluarga yang mampu membawa perspektif baru di dunia agribisnis.

Bambang menambahkan, saat ini Dinas Pertanian di berbagai kabupaten telah mulai bergerak membentuk Brigade Pangan sebagai turunan program pusat untuk mengelola lahan seluas ratusan hektare dengan sokongan mekanisasi modern.

Ia menekankan bahwa stigma pertanian tradisional yang identik dengan kerja fisik berat harus segera diubah. Pasalnya, pertanian modern saat ini sudah bertransformasi menggunakan bantuan teknologi tinggi.

“Oleh karena itu, kita jangan berorientasi bahwa kerja petani itu mencangkul, sebenarnya hal itu tidak, karena saat ini teknologi sudah ada terus ada support dari pemerintah pusat, berupa cetak sawah juga sudah ada, dan alat pendukung untuk menanam juga sudah ada,” ujar Bambang.

Menurutnya, kebutuhan mendesak Kalimantan Tengah saat ini bukanlah buruh cangkul, melainkan operator teknologi pertanian dan manajer lahan yang cerdas. Kehadiran sarjana di sektor ini diharapkan mampu mengubah pola pikir pertanian dari sekadar bercocok tanam menjadi industri pengolahan hasil yang bernilai tambah.

“Kita akui bahwa di Kalteng kekurangan sumber daya manusia, terutama anak muda yang berkecimpung di bidang pertanian, sehingga dengan adanya anak muda yang berkecimpung di bidang pertanian, generasi muda bisa membuat sebuah padi menjadi sebuah produk,” tandasnya. (asp)

Berita Terkait