BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Persoalan jalan dan drainase menjadi keluhan utama warga Menteng XII, RT 06/RW 08, Kota Palangka Raya, saat menyampaikan aspirasi kepada Anggota DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Faridawaty Darlan Atjeh.
Aspirasi tersebut disampaikan dalam kegiatan reses perseorangan Faridawaty pada Rabu (26/8/2026).
Selain infrastruktur, warga juga menyampaikan persoalan penerangan jalan, sampah, keamanan lingkungan, pelayanan kesehatan, administrasi kependudukan hingga pemberdayaan masyarakat.
Ketua RT 06/RW 08, Dedy Indarto, mengatakan kawasan Menteng XII merupakan wilayah yang rawan banjir. Selama ini, warga bahkan melakukan swadaya untuk menyewa alat berat guna membersihkan parit agar aliran air tetap berfungsi.
“Menteng XII ini rawan banjir. Selama ini masyarakat melakukan swadaya dengan menyewa excavator untuk mencuci parit agar tidak banjir,” ujarnya.
“Kegiatan tersebut dilakukan sekitar tiga tahun sekali. Karena itu, kami membutuhkan pembuatan drainase dari Jalan Embang 1 sampai Jalan Embang 7 karena di kawasan tersebut belum ada drainase,” lanjut Dedy.
Menurutnya, persoalan drainase juga berkaitan dengan pembangunan kawasan oleh pengembang. Ia mengaku warga kerap bersinggungan dengan developer karena pembangunan drainase dinilai belum sesuai kebutuhan lingkungan.
“Warga selalu berbenturan dengan developer terkait pembuatan drainase. Banyak developer yang tidak peduli dengan lingkungan. Drainase yang seharusnya dua meter dibuat menjadi setengah meter,” kata Dedy.
“Dulu pengurusan IMB melalui RT dan ada kewajiban membuat drainase, tetapi di Jalan Embang 4 ada developer yang ingkar janji,” tambahnya.
Selain drainase, warga meminta peningkatan penerangan jalan utama Menteng XII hingga kawasan pos kamling. Kebutuhan tersebut selama ini juga dipenuhi melalui swadaya masyarakat dengan biaya sekitar Rp3 juta hingga Rp3,5 juta untuk setiap titik penerangan.
Warga lainnya, Daru, turut menyoroti persoalan sampah dan keamanan lingkungan. Menurutnya, pengangkutan sampah menuju Griya Sanur belum berjalan efektif sehingga masih terjadi penumpukan.
“Pengolahan dan pengangkutan sampah ke Griya Sanur belum berjalan efektif. Sampah masih menumpuk dan baunya mengganggu masyarakat. Kami juga membutuhkan petugas jaga malam dari pukul 21.00 sampai 05.00 karena Jalan Setapak tembus ke G. Obos VI dan bisa menjadi akses menuju Menteng XII,” kata Daru.
Sementara itu, Sukiyatno, warga Jalan Tilung, kembali menyoroti persoalan jalan dan banjir yang terjadi di kawasan Menteng 12 hingga 22.
“Menteng 12 sampai 22 kalau sudah musim hujan pasti banjir. Karena itu, kami memohon peningkatan jalan dan pembuatan drainase agar persoalan genangan dapat ditangani dan warga lebih nyaman beraktivitas,” ujar Sukiyatno.
Persoalan akses jalan juga dinilai penting untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat. Rendy Pratama menyebut akses jalan yang kurang baik dapat menyulitkan kendaraan pemadam kebakaran ketika terjadi kebakaran pada musim kemarau.
“Jalan G. Obos dan sekitarnya juga sering terjadi kebakaran pada musim kemarau, tetapi akses jalannya masih kurang baik sehingga pemadam sulit masuk. Kondisi jalan ini perlu diperhatikan karena menyangkut akses penanganan ketika terjadi kebakaran,” ujar Rendy.
Di sektor pelayanan publik, warga juga menyampaikan persoalan layanan kesehatan bagi peserta PBI, administrasi kependudukan, serta kebutuhan pemberdayaan perempuan melalui pelatihan keterampilan dan UMKM.
Dalam reses tersebut, Faridawaty turut merealisasikan bantuan pribadi sebesar Rp5 juta untuk kas RT 06/RW 08. Bantuan itu dapat digunakan untuk kebutuhan tanah urug, kebersihan drainase, kegiatan ibu-ibu, maupun kebutuhan lingkungan lainnya.
Beragam aspirasi tersebut menunjukkan kebutuhan warga Menteng XII tidak hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga pengelolaan lingkungan, keamanan, pelayanan publik, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Warga berharap berbagai usulan tersebut dapat ditindaklanjuti pemerintah sesuai kewenangan dan kemampuan pembangunan daerah. (asp)





