Bapak Parin Pemilih Tertua di Palangka Raya, Umur 106 Tahun

, PALANGKA RAYA – Bapak Parin, lahir pada 20 Juni 1918, tercatat sebagai pemilih tertua di Kota Palangka Raya pada .

Dengan semangat yang tak luntur oleh usia, ia masih mengenang masa-masa berjuang mengangkat senjata saat perang kemerdekaan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

“Dulu pakai senapan dum-duman,” kenangnya penuh semangat. Meski pernah memiliki surat dari Legiun Veteran, dokumen berharga itu kini hilang.

Lahir di Tulung Agung, Jawa Timur, Parin dibawa ke Banjarmasin sebelum kemerdekaan Indonesia. Orang tuanya bekerja di karet di Danau Salak. Parin menikah dengan Musrikah, juga dari Tulung Agung, pada awal masa kemerdekaan, dan mereka dikaruniai 7 anak, 25 cucu, dan 24 cicit.

Setelah pensiun dari perusahaan karet pada 1982, ini pindah ke Palangka Raya, mengikuti salah satu anak mereka yang bekerja di bidang konstruksi. Setelah tiga tahun, mereka menetap di Tangkiling, dan kini menjadi warga Kelurahan Tumbang Tahai, Kecamatan Bukit Batu.

Meskipun usianya sudah lebih dari satu abad, Pak Parin masih terlihat sehat dan bugar. Ia bahkan masih mampu mengendarai sepeda motor, Honda Grand Impressa.

Namun, beberapa bulan lalu, ia sempat tersesat karena lupa alamat saat mengendarai motor terlalu jauh. Akibatnya, anak-anaknya memutuskan untuk mengempesi ban motor agar tidak digunakan lagi. Kini, mereka tinggal berdua di rumah karena anak-anak sudah berkeluarga.

Dalam proses pemutakhiran data pemilih oleh Pantarlih (Petugas Pemutakhiran Data Pemilih) KPU, Pak Parin dan istrinya diperiksa identitasnya. Ditemukan bahwa Kartu (KK) mereka tercetak pada 2016, sedangkan KTP yang dimiliki adalah keluaran 2013 dan belum berupa KTP elektronik.

Hal itu menjelaskan mengapa nama mereka tidak terdaftar dalam DP4 (Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilu) dari Kemendagri, yang dapat menghambat akses layanan .

Anggota KPU Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Wawan Wiraatmaja, yang turut hadir, menginstruksikan petugas untuk membantu perekaman KTP elektronik, baik dengan mendatangkan petugas ke rumah atau mengantar mereka ke kantor kelurahan atau kecamatan.

Hadir pula anggota , Taufiqurrahman, dan staf sekretariat.

Pada Pemilu 14 Februari 2024, Pak Parin dan istrinya terdaftar sebagai pemilih dan menggunakan hak pilih mereka di TPS dekat rumah, yang terletak di ujung Jl. Sidomulyo, RT 003, RW 002.

Mereka menyatakan selalu memilih sejak era Orde Baru dan memiliki kenangan mendalam terhadap Presiden Soeharto.

Pak Parin bukan hanya sekadar pemilih, tetapi simbol semangat demokrasi dan pengingat pentingnya partisipasi politik dalam membangun bangsa. (asp)