Elnusa Petrofin Jadi Motor Logistik Green Hydrogen Pertama Pertamina

PT Elnusa Petrofin (EPN), anak usaha PT Elnusa Tbk (ELSA) yang tergabung dalam Subholding Upstream Pertamina, mendukung implementasi inisiatif Green Terminal di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, Banten. (ist)

BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Terminal LPG Tanjung Sekong yang berada di pesisir Cilegon, Provinsi Banten, bukan lagi sekadar fasilitas penyimpanan biasa. Sebagai simpul kritis yang menopang 35 hingga 40 persen kebutuhan LPG nasional, terminal ini kini resmi menjadi panggung uji coba transformasi besar integrasi energi hijau di Indonesia.

Melalui peresmian inisiatif Green Terminal oleh PT Pertamina (Persero) pada 13 Februari 2026, kawasan ini bertransformasi menjadi laboratorium hidup yang memaadukan teknologi ramah lingkungan, digitalisasi, ekonomi sirkuler, hingga perlindungan biodiversitas.

Dalam proyek besar untuk energi hijau Indonesia ini, PT Elnusa Petrofin (EPN) tampil sebagai pemain kunci yang menjembatani lahirnya rantai pasok energi masa depan.

Selama ini, Elnusa Petrofin lebih dikenal publik sebagai ujung tombak distribusi BBM PSO (Subsidi) dan BBM Satu Harga ke wilayah pelosok Nusantara. Namun, keterlibatannya dalam ekosistem Green Terminal Tanjung Sekong menandai babak baru, yakni bertransformasi menjadi enabler logistik untuk energi baru terbarukan.

PT Elnusa Petrofin memegang peran krusial dalam mendistribusikan Green Hydrogen-hidrogen bersih yang diproduksi oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dari sumber panas bumi di Ulubelu, Lampung.

Elnusa Petrofin mengangkut energi bersih tersebut secara presisi menuju PT Pertamina Energy Terminal (PET) di Tanjung Sekong untuk dikonversi menjadi listrik rendah karbon.

Pembangkit berbasis Green Hydrogen ini ditargetkan mampu memenuhi hingga 25 persen kebutuhan listrik operasional terminal, sekaligus memangkas emisi tidak langsung (Scope 2) di Tanjung Sekong.

“Keberhasilan NZE Roadmap 2060 tidak hanya ditentukan oleh inovasi di sisi produksi energi, tetapi juga oleh keandalan sistem logistik yang mampu mengantarkan energi bersih secara aman, presisi, dan berkelanjutan hingga titik pemanfaatan,” ujar Doni Indrawan, Direktur Utama PT Elnusa Petrofin.

Menangani hidrogen membutuhkan tingkat presisi dan keamanan yang sangat tinggi. Dengan pengalaman panjang dalam pengelolaan transportasi energi berskala nasional, sistem monitoring berbasis teknologi, serta standar Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) yang ketat, Elnusa Petrofin menjadi mitra logistik yang paling siap dalam ekosistem ini.

Langkah ini bukan sekadar ekspansi lini bisnis biasa, melainkan sebuah repositioning strategis. PT Elnusa Petrofin sukses menjembatani dunia energi konvensional dan energi baru ke dalam satu sistem distribusi nasional yang terintegrasi.

Agung Wicaksono, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), menegaskan bahwa inisiatif Green Terminal adalah bagian dari Roadmap Net Zero Emission (NZE) 2060 Pertamina yang menekankan efisiensi, pengurangan emisi, dan percepatan adopsi energi baru di seluruh lini bisnis.

Proyek percontohan di Tanjung Sekong yang memiliki kapasitas penyimpanan 98.000 metrik ton dan dermaga penampung kapal hingga 65.000 DWT ini menjadi bukti nyata sinergi lintas entitas Pertamina Group.

PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) sebagai produsen energi hijau, PT Elnusa Petrofin (EPN) sebagai distributor andal, dan PT Pertamina Energy Terminal (PET) sebagai pengguna akhir.

Jika model distribusi dan operasional ini sukses direplikasi, Tanjung Sekong akan menjadi cetak biru bagi terminal-terminal energi strategis lain di Indonesia.

Melalui proyek ini, Elnusa Petrofin membuktikan diri tidak sekadar beradaptasi dengan tuntutan zaman, melainkan memimpin perubahan langsung dari dalam rantai pasok energi nasional. (asp)