BALANGANEWS, PANGKALAN BUN – Tau tidak pahari (saudara) semua, tentang cerita Batu Petahan, merupakan salah satu sejarah simbol persatuan antara suku Dayak Kalimantan Tengah, dan Suku Banjar. Penasaran, ayo simak cerita selengkapnya.
Keberadaan, kabupaten Kotawaringin Barat, (Kobar) Kalimantan Tengah. Tidak bisa dilepaskan, dari jejak sejarah Kerajaan Kotawaringin yang dibangun oleh keturunan Raja Banjar pada dahulu kala.
Dimana, cerita bermula dari saat Pangeran Adipati Antakusuma, meninggalkan Kerajaan Banjar dengan tujuan ke arah barat. Yang tujuannya untuk mencari tempat, dimana akan didirikannya sebuah kerajaan baru.
Dengan restu Ayahnda dan Ibundanya saat itu, maka Pangeran Adipati beserta sejumlah pengawal dan beberapa perangkat kerajaan, dengan perahu layar bertolak menuju kearah Barat.
Dan dalam perjalanan waktu itu, banyak tempat yang disinggahi, antara lain seperti, Teluk Sebangau, Pagatan Mendawai, Sampit, Kuala Pembuang hingga akhirnya sampai ke Desa Pandau yang dihuni masyarakat suku Dayak Arut dibawah kepemimpinan Demang Petinggi, di Umpang.
Singkat cerita, waktu itu. Pangeran Adipati Antakusuma dapat diterima masyarakat Suku Dayak Arut untuk dijadikan raja dari rakyat Dayak. Namun dengan syarat, bahwa Raja tidak boleh memperlakukan rakyat Dayak sebagai hamba.
Melainkan, sebagai pembantu utama dan kawan dekat atau sebagai saudara yang baik. Dan selain itu, rakyat tidak akan menyembah sujud ke hadapan Pangeran Adipati Antakusuma.
Syarat itu diterima Pangeran Adipati, termasuk syarat agar dibuat perjanjian bermaterai darah manusia dari seorang suku Dayak dan seorang dari rombongan Pangeran Adipati.
Sebelum dikorbankan, kedua orang yang mewakili masing-masing pihak, mengambil sebuah batu yang harus ditancapkan ke tanah sebagai bukti turun-temurun, saksi sepanjang masa melalui upacara adat.
Kini batu itu sekarang, terkenal dengan nama “BATU PETAHAN” yang terdapat di Pandau kecamatan Arut Utara, kabupaten Kotawaringin Barat.
Pada saat upacara adat, korban yang mewakili suku Dayak menghadap ke hulu asal datangnya, dan korban yang mewakili rombongan Pangeran Adipati menghadap ke hilir. Untuk mengibaratkan asal datangnya, mereka masing-masing.
Upacara adat dengan sumpah setia itu, atau perjanjian tersebut. Akhirnya dinamai, “PANTI DARAH JANJI SEMAYA”, dengan simbol sebuah batu.
Yang kini cukup melegenda, dengan cerita abadinya. Dan bagi yang ingin berkunjung, ke daerah tersebut sangat mudah.
arena lokasinya, berada di desa Pandau, kecamatan Arut Utara, kabupaten Kotawaringin Barat.
Namun, untuk sekarang. Mengingat sedang dalam siatusi pandemi Corona Virus, maka harap di tunda dulu sampai situasi sudah aman, atau mereda.
Salah seorang relawan pelopor Perdamaian Barito Utara, Kalimantan Tengah, Saleh Purwanto SE. Menekankan, penting bagi generasi muda, untuk mengetahui dan mempelajari sejarah masa lampau.
Kita akan dihadapkan pada tantangan era kemajuan tehnologi, yang semakin canggih. Apa lagi di era 4.0 ini, akan terjadi revolosi industri secara besar-besaran.
Maka, ancamannya, sejarah kalau tak di pelajari sejak dini, maka generasi kita akan lupa dan bisa saja sudah tidak tau sejarahnya.
“Bayangkan, pancasila saja ada yang sudah tidak hapal dan terbolak balik, seperti yang kita liat di tv dan sempat viral juga”,tukasnya tadi Minggu (5/4/2020) di Sekretariat HMI Muara Teweh saat bertandang. (ris)