Polres Gumas Libatkan Ratusan Personel dalam Latihan Simulasi Kontinjensi Konflik Sosial

Suasana latihan simulasi dalmas, di lapangan Mapolres setempat, Selasa (28/4/2026).

BALANGANEWS, KUALA KURUN – Ratusan personel Kepolisian Resor (Polres) Gunung Mas (Gumas) dan polsek jajaran melakukan latihan simulasi pengendalian massa (dalmas), dalam menghadapi situasi kontinjensi konflik sosial. Ini adalah wujud komitmen dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

“Latihan melibatkan 176 personel polres dan 30 dari polsek jajaran, yang mempraktikkan teknik formasi perlindungan dan negosiasi di tengah kerumunan massa yang disimulasikan mulai memanas,” ucap Kapolres Gumas AKBP Heru Eko Wibowo, S.I.K, M.H, Selasa (28/4/2026).

Rangkaian latihan diawali dengan sesi Tactical Wall Game (TWG) yang dipimpin langsung oleh Kapolres Gumas. Dalam sesi ini, Kabagops AKP Nurheriyanto Hidayat, S.H, M.Si memaparkan materi strategis terkait pemetaan kerawanan dan ploting personel.

“Latihan dirancang untuk menguji kesiapan mental, fisik, serta koordinasi antar unit dalam menghadapi potensi gangguan keamanan yang bersifat masif di Kabupaten Gumas,” terangnya.

Dia mengatakan, aspek teknis yang ditekankan saat simulasi yakni penggunaan tameng, kendali aparat, hingga cara berkomunikasi efektif untuk tenangkan massa.

“Kami juga melibatkan personel polsek jajaran, agar sinergi antara pusat komando di polres dan unit di kecamatan berjalan selaras tanpa ada hambatan komunikasi,” jelasnya.

Dia menuturkan, penguasaan teknik dalmas yang mumpuni sangat penting untuk menghindari terjadi kesalahan prosedur di lapangan. Dengan latihan ini, personel terus meningkatkan kapasitas diri sebagai pelindung masyarakat.

“Latihan ini menjadi langkah preventif memastikan seluruh jajaran memiliki pemahaman sama ketika menghadapi dinamika di lapangan. Kesiapan dari personel adalah kunci utama meredam konflik agar tidak meluas,” tuturnya.

Melalui simulasi ini, lanjut dia, setiap personel bisa memahami tugas masing-masing, sehingga upaya penanganan konflik sosial dapat dilakukan secara humanis namun tetap tegas sesuai prosedur.

“Latihan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat,” ujarnya.

Setelah latihan, tambah dia, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan analisis dan evaluasi (anev) serta konsolidasi. Setiap kelemahan dalam simulasi dibahas secara mendalam untuk diperbaiki, dalam operasional yang sebenarnya di masa mendatang.

“Kami akan senantiasa waspada dan siap menjamin rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat,” tukas dia. (sid)