Seberapa Sering Wanita Perlu Melakukan Tes Mamografi?

Tes mamografi merupakan salah satu cara untuk mendeteksi kanker payudara. Jenis tes ini perlu dilakukan secara rutin guna mengantisipasi adanya pertumbuhan sel kanker pada payudara seorang wanita. Semakin cepat kanker payudara terdeteksi, semakin cepat pula pengobatan kanker dapat dilakukan. Lantas, kapan waktu tepat memulai dan seberapa sering tes mamografi harus dilakukan?

Mengapa wanita harus melakukan tes mamografi?

Tes mamografi dilakukan dengan menggunakan mesin tertentu untuk mengambil gambar x-ray dari masing-masing payudara. Melalui gambar ini, dokter akan melihat apakah terdapat benjolan atau bentuk yang abnormal pada payudara, yang sulit dirasakan jika hanya melalui pemeriksaan fisik. Bahkan, meski belum merasakan gejala apapun, benjolan pada payudara dapat terdeteksi dengan mamografi.

Bila terdapat benjolan atau bentuk payudara yang abnormal, dokter akan melakukan tes lain untuk memastikan hal tersebut, seperti ultrasound atau biopsi. Melalui kedua tes ini, dapat diketahui apakah temuan dalam tes mamografi itu terkait dengan kanker atau bukan.

Risiko terbentuknya kanker payudara pada seorang wanita meningkat seiring dengan pertambahan umur. Karena itu, pemeriksaan rutin payudara melalui mamografi baik dilakukan secara rutin.

Dengan mamografi yang rutin, kanker payudara dapat terdeteksi secara dini sehingga dapat segera dilakukan pengobatan. Hal ini penting untuk mencegah pertumbuhan sel kanker menjadi lebih parah.

Seberapa sering pemeriksaan mamografi harus dilakukan?

Setiap orang tentu memiliki riwayat medis yang berbeda. Untuk mengetahui secara pasti, tanyakan pada dokter mengenai kapan perlu memulai tes mamografi dan seberapa sering harus dilakukan. Dokter akan menentukan waktu yang tepat sesuai dengan riwayat medis dan seberapa besar risiko kanker payudara pada individu setiap orang.

Meski demikian, American Congress of Obstetricians and Gynecologists merekomendasikan setiap wanita berusia 20-an dan 30-an perlu menjalani pemeriksaan klinis pada payudara dengan dokter setiap tiga tahun, lalu setelah usia 45 tahun perlu dilakukan setahun sekali. Dokter yang nantinya akan memutuskan apakah tes lain untuk kanker payudara perlu dilakukan atau tidak.

Seiring dengan penambahan umur, risiko terkena kanker payudara pun semakin tinggi. Oleh karena itu, American Cancer Society merekomendasikan, pemeriksaan mamografi perlu dimulai pada wanita usia 40 hingga 44 tahun. Kemudian, pada usia 45 hingga 54 tahun, wanita perlu melakukan tes mamografi setiap tahun.

Baru pada wanita usia 55 tahun ke atas, tes mamografi boleh dilakukan setiap 2 tahun sekali. Namun, bagi yang ingin melanjutkan pemeriksaan setahun sekali tidak masalah. Tes mamografi pun perlu dilanjutkan meski seorang wanita diklaim memiliki kesehatan yang baik dan ingin terus melanjutkan hidupnya dengan sehat.

Wanita pun perlu mengetahui bagaimana bentuk payudara normal miliknya. Dengan demikian, dia bisa segera melakukan pemeriksaan ke dokter bila diketahui ada perubahan yang abnormal pada payudaranya.

Beberapa ahli menyebut tes rutin mamografi boleh berhenti pada usia 74 tahun ke atas. U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF) menyebut wanita yang lebih tua, yakni di atas 75 tahun, tidak terbukti memiliki risiko kanker yang potensial. Dengan begitu, melakukan mamografi pada usia tersebut dirasa sudah tidak lagi bermanfaat.

Selain melakukan tes mamografi, American Cancer Society pun merekomendasikan bagi wanita yang memiliki riwayat kanker payudara dari keluarga atau karena faktor genetik, perlu melakukan tes MRI (magnetic resonance imaging). Diskusikanlah dengan dokter terkait hal ini dan susunlah rencana pemeriksaan deteksi dini kanker payudara yang terbaik dengan dokter. (hellosehat)