Lagi, Dua Balita di Kotim Meninggal Akibat DBD

dengue () di Kabupaten (Kotim) bertambah. Bahkan menelan dua korban jiwa yang masih balita.

Meninggalnya dua penderita DBD ini menambah deretan korban jiwa akibat penyakit yang ditularkan nyamuk tersebut.

Kepala Dinas Kotawaringin Timur, dr Faisal Novendra Cahyanto mengatakan, kedua balita yang meninggal akibat DBD itu semuanya berasal dari Kecamatan Parenggean.

“Memang ada penderita DBD meninggal di Kecamatan Parenggean. Usianya juga balita (bawah lima tahun). Ini masih kami telusuri mendalam sambil melakukan penanggulangan agar tidak meluas,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur, dr Faisal Novendra Cahyanto di Sampit, seperti dilansir Antara, Selasa (26/2/2019).

Diungkapkan Faisal, awalnya pihak menduga anak tersebut hanya menderita demam biasa. Saat diperiksa ke Parenggean, barulah diketahui anak tersebut menderita demam berdarah, namun saat itu kondisinya sudah kritis sehingga nyawanya tidak tertolong.

Diakui, meninggalnya penderita demam berdarah di Parenggean cukup mengejutkan. Karena sebelumnya kecamatan itu tidak termasuk yang dianggap sangat rawan penyakit mematikan tersebut.

Dinas Kesehatan fokus menangani di Sampit yang meliputi Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang karena sudah ada korban jiwa yaitu seorang di Baamang yang meninggal dunia akibat demam berdarah.

Meski terdapat dua balita meninggal dunia, imbuh Faisal, namun angka kasus demam berdarah di Kotawaringin Timur terbilang lebih rendah dibanding daerah lain.

“Hingga pekan lalu terdata sekitar 56 kasus demam berdarah,” ujarnya.

Untuk antisipasi penyebaran DBD, lanjut dia, pihaknya menggencarkan upaya pemberantasan sarang nyamuk dengan melibatkan masyarakat, khususnya di Sampit. Hal itu dinilai efektif menekan angka penyakit demam berdarah.

“Dampak efektif pemberantasan jentik sudah terasa. Saat angka kasus demam berdarah secara nasional saat ini tinggi, Kotawaringin Timur masih rendah. Kami berharap bisa mengerem peningkatan demam berdarah sampai bulan depan,” kata Faisal.

Selain itu dia mengimbau agar warga yang membutuhkan abate bisa langsung mendapatkannya secara gratis dengan meminta ke Puskesmas terdekat.

“Dinas Kesehatan juga sudah mengusulkan permintaan tambahan 750 kilogram abate untuk mengoptimalkan pemberantasan jentik,” ujarnya. (kha/bnews)