Harga Cabai Naik di Palangka Raya Jelang Ramadhan

Img 20260205 Wa0004(1)
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Nohani saat melakukan pemantauan harga dan ketersediaan pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional bulan Ramadhan 1447 Hijriah

BALANGANEWS, PALANGKA RAYA – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kalimantan Tengah (Kalteng) bersama tim gabungan melakukan pemantauan harga dan ketersediaan pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah di Pasar Besar Palangka Raya, Kamis (5/2/2026).

Kepala Disdagperin Kalteng, Norhani, menyatakan bahwa pemantauan ini dilakukan untuk melihat langsung perkembangan harga kebutuhan pokok yang biasanya berfluktuasi menjelang bulan puasa.

Berdasarkan hasil tinjauan, komoditas cabai rawit atau lombok tiung menjadi sorotan utama karena mengalami lonjakan harga yang sangat tajam.

“Dari hasil peninjauan mulai dari bagian depan hingga belakang pasar, harga kebutuhan pokok bervariasi. Namun yang paling mencolok adalah kenaikan harga cabai rawit atau lombok tiung,” ujar Norhani.

Ia mengungkapkan bahwa dalam lima hari terakhir, harga cabai rawit meroket dari kisaran Rp50 ribu per kilogram menjadi Rp100 ribu, bahkan hingga Rp120 ribu per kilogram di tingkat pedagang.

“Ini kenaikan yang cukup tajam. Sementara untuk komoditas lain masih relatif stabil,” jelasnya.

Berbeda dengan cabai, sejumlah komoditas lain justru terpantau stabil atau menurun. Harga daging sapi bertahan di kisaran normal Rp140 ribu per kilogram, telur ayam ras tidak mengalami perubahan berarti, dan bawang merah justru turun dari Rp38 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram.

“Bawang merah ada penurunan,” tambahnya. Sementara itu, harga ayam potong masih bervariasi di kisaran Rp40 ribu hingga Rp44 ribu per ekor.

Norhani menjelaskan bahwa tingginya harga cabai rawit dipicu oleh ketergantungan pasokan dari luar daerah serta rantai distribusi yang panjang.

“Cabai rawit ini sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah. Permintaannya tinggi, ditambah rantai distribusinya cukup panjang karena sudah berpindah tangan beberapa kali, sehingga harga menjadi lebih mahal,” ungkap Norhani.

Guna menekan ketergantungan pasokan, pemerintah daerah berharap produksi lokal ke depan dapat lebih ditingkatkan agar harga kebutuhan pokok, khususnya cabai, dapat lebih stabil bagi masyarakat Kalteng. (asp)