10 Warga Kapuas yang Pulang dari Gowa, Jadi ODP

ilustrasi

BALANGANEWS, KUALA KAPUAS – Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, dr Tri Setya Utami mengatakan, pihaknya sudah mendata dan memantau warga setempat yang baru pulang menghadiri kegiatan tablig akbar se-Asia di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

“Sebelum info daftar ratusan orang yang ke Gowa, Sulawesi Selatan beredar di WhatsApp, pihak Dinkes Kapuas dan Puskesmas sudah mendata 21 orang itu,” kata Tri di Kuala Kapuas, Minggu (5/4/2020).

Dari 21 orang itu, kata Tri, terdiri 10 Orang Dalam Pemantauan (ODP), satu orang adalah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang sudah dirujuk ke RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya dan 10 orang lainnya tidak bergejala.

“Terhadap 10 orang ODP dan 10 orang tidak bergejala tersebut masih dalam pantauan Puskesmas dan Satgas (Satuan Tugas) kecamatan dan desa. Mereka isolasi mandiri dan dipantau terus,” ucapnya.

Tri mengatakan, diperkirakan daftar nama-nama yang menghadiri acara ijtima ulama Asia di Gowa, Sulawesi Selatan itu kemungkinan akan terus bertambah. Karena hingga saat ini pihaknya masih terus menerima laporan dari masyarakat, Puskesmas, Call Center, termasuk yang beredar dalam info 600 orang tersebut.

“Jadi proses pengecekan sedang berjalan saat ini. Cek dan ricek terus dilakukan oleh surveilans,” ujarnya.

Untuk para ODP, lanjutnya, pihaknya akan melakukan tes dangan Rapid Diagnostic Test (RDT), yakni alat tes cepat untuk membantu diagnosa. Tapi RDT saat ini jumlah masih terbatas.

“Karena itu, untuk mensiasati keterbatasan, ODP yang dari Gowa akan dicek lagi satu persatu. Mana yang misal lansia, ada komorbid atau penyakit penyerta dan sebagainnya. Ini jadi prioritas kami,” kata dia.

Pihaknya juga menjelaskan, bahwa untuk mengecek dangan RDT ini juga waktunya tidak boleh sembarangan, harus ditentukan waktunya agar bisa dideteksi antibodinya oleh RDT.

“Orang bisa saja negatif saat dites RDT, meski dalam tubuhnya ada virus. Karena antibodinya belum terbentuk,” kata Tri Setya Utami. (ari/ant)