Karya: Rahmi Nurfitriana
Maaf kutaruh di sela napas yang tertunda,
bukan untuk dibenarkan,
hanya agar beban tak terus tinggal
di dada yang terlalu lama belajar diam.
Ia datang tanpa pembelaan,
tanpa cerita yang ingin dimenangkan,
sekadar pengakuan sunyi
bahwa aku pernah keliru melangkah.
Jika kelak langkah kembali searah,
biarlah jeda ini menjadi ruang bernapas,
tempat luka pelan-pelan menutup,
dan pagi berani masuk tanpa ragu.
Palangka Raya, 2025










